Tak ada gading yang tak retak

Nikah2Harusnya pribahasa di atas ditegaskan kepada setiap sejoli yang memutuskan menikah. Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula pernikahan. Jika anda membayangkan mahligai pernikahan akan membuahkan kisah “happily ever after”, maaf saja, anda pasti kecewa.

Banyak perempuan mengaku sedari kecil dirinya bercita – cita ingin jadi pengantin. Berdandan manis, dengan gaun putih, didampingi pujaan hati dan mengucapkan janji setia sehidup semati. Ini juga dipertegas dalam bacaan cengeng negeri dongeng. Lima sekawan Cinderella, Putri Salju, Putri tidur, Little Mermaid, Beauty and the Beast, menawarkan akhir cerita yang serupa. Gadis cantik, sedikit terpuruk namun diselamatkan oleh pangeran menawan. Akhir cerita ditulis, mereka menikah dan bahagia untuk selama – lamanya.

Ok…saatnya melihat realita. “Happily ever after” hanya terjadi di cerita dongeng. Get real…..Saya beruntung tidak pernah ‘begitu amat sangat ingin menikah’ dari kecil, bahkan hingga sekarang. Bersyukur saya terbebas dari ‘kutukan’ impian kolot itu. Akhirnya saya bisa melihat pernikahan lebih nyata tanpa acuan buku dongeng.

Pernikahan itu kerja keras, tidak mudah dan sama seperti gading gajah, tak ada yang sempurna, semuanya penuh retak. Coba bayangkan, manusia diciptakan begitu berbeda. Jangankan, berbeda jenis kelamin, anak kembar identik pun sulit disatukan. Hingga menyatukan dua individu ke dalam satu biduk rumah tangga menjadi pekerjaan yang mustahil. 

Nikah_3Mustahil, tapi toh jutaan pasangan di dunia unjuk keberanian melangkah ke pelaminan setiap tahunnya. Nekat? Bisa jadi, namun gelar ‘nekat’ harusnya diberikan kepada mereka yang memutuskan bercerai dalam hitungan tahun dengan alasan ‘tidak ada kecocokan’. Hmm….seperti yang saya katakan tadi, ketidakcocokan merupakan sesuatu yang alami dan tidak bisa dihindari. Belum lagi, situasi berubah, politik, kesehatan, keberuntungan berubah dan jangan lupa, sifat orang pun bisa berubah. Jangan heran jika anda bangun dan menemukan orang yang berada di samping anda, bukan dia yang kau nikahi dulu. Perubahan itu sesuatu yang pasti akan terjadi. Tidak ada kecocokan? Yah memang akan tidak cocok.

Pendapat lain mengatakan, pernikahan bak penjara seumur hidup. Dan jika anda umat kristiani, anda layak mendapat ucapan selamat dua kali. Bahkan Tuhan dan gereja-mu melegalkan ‘penjara seumur hidup’ tadi. Perjuangan akan lebih dahsyat karena tidak bisa seenaknya kawin cerai. Mengurus perceraian lebih rumit daripada permasalahan yang membuat anda bercerai. Dan lengkaplah sudah.

Saat berita perceraian datang, saya berduka. Menanyakan alasan perceraian pun rasanya enggan, saya lebih ingin menanyakan alasan mereka menikah diawalnya. Dan sisanya menanyakan kabar mereka. Mereka pasti jauh lebih berduka daripada saya. Menyesal memang datang belakangan.

Teman saya bilang, kebahagiaan itu diciptakan. Saya setuju. Kebahagiaan tidak datang sendirinya. Butuh kerja keras untuk menciptakan itu. Untuk semua sahabat yang memutuskan menikah, saya selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Kalianlah pencipta kebahagiaan itu. Terus berjuang yah….

                            

Virus Bahagia

Happy_1“Percaya ga kebahagiaan itu menular…?

Jika kamu melihat orang yang kamu sayang tersenyum lebar tanpa henti,

mencerminkan raut ceria bak anak kecil mendapatkan hadiah impiannya,

kamu pasti turut bahagia.

Bahkan berkali lipat lebih bahagia. 

Rasa itu menggunung, memuncak,

menjulang tinggi menembus awan.

Dia bahagia,

dan kamu tertular berbahagia melihatnya bahagia.

Dia,

memberikan alasan untukmu bahagia.

Kebahagiaan bak virus yang menular

Selamat…”.

Mimpi

Bermula dari mimpi….

Saya pemimpi. Dalam arti sebenarnya, bunga tidur selalu menghiasi malam lelap saya. Dalam keadaan normal, tidak terlampau capai dan tidak terburu – buru tidur, visualisasi imajinasi berputar layaknya film usang. Tampak, namun tak jelas. Tersamar dan sulit diidentifikasi. Saat bangun saya mampu mengingat kilasan cerita mimpi tadi. Syaratnya satu, biarkan saya terbangun sendirinya. Membangunkan paksa justru membuyarkan gambaran mimpi tersebut.

Saya tidak bisa mengatur mimpi apa saya malam ini. Ini bukanlah layar bioskop dimana kamu bisa memilih film apa yang ingin ditonton. Tapi lebih seperti nonton TV, terima jadi, apa yang ditayangkan, itulah yang dilihat.

MimpiPuas mengingat mimpi, saya berniat naik ke level berikutnya. Mengartikan mimpi. Saya kerap bertanya – tanya, adakah pesan khusus yang terkandung di dalamnya? Di alkitab, mimpi firaun yang ditafsirkan Yusuf mampu menyelamatkan bangsa Israel. Jaman undian SDSB dulu, sampai dibuat buku terjemahan mimpi ke dalam angka. Segala macam mimpi, mulai dari naik sepeda, makan bakso sampai tenggelam di sungai, semua ada angkanya. Angka inilah yang kemudian didaftarkan ke panitia “judi legal” jaman Suharto. Jika beruntung, angka anda keluar sebagai pemenang dan mendapatkan uang tunai. Well…Saya tidak berniat jadi Satrio dipinggit untuk Indonesia, juga bermimpi menang undian miliaran rupiah. Saya juga tidak bermaksud mengkomersialkan arti mimpi seperti Mama Lauren. Cukup hal – hal sederhana dan untuk konsumsi pribadi.

Dan permintaan saya dikabulkan. Suatu hari saya bermimpi gigi saya tanggal dan seorang teman memberitahu, mimpi gigi tanggal berarti akan ada kematian. Gigi rahang atas mewakili orang lebih tua, gigi bawah tuk mereka yang lebih muda. Awalnya saya acuh tak acuh, saya memang sensitif dengan gigi. Buat saya, mimpi gigi tanggal merupakan manifestasi ketakutan saya terhadap dokter gigi. Namun setelah beberapa kali kejadian, saya jadi lebih awas.

GigiKurang dari seminggu, kabar duka mampir ke rumah. Saudara jauh, yang sudah sepuh, kembali ke pangkuan Pencipta. Hmm….kebetulan sematakah? Kali kedua mimpi itu datang, saya jadi menunggu. Dan benar saja, dalam beberapa hari, keluarga saya harus kembali ke rumah duka, melawat yang ditinggalkan. Saya belajar, gigi tanggal berarti kematian. Dan kematian di sini tidak termasuk meninggalnya orang terkenal, artis maupun pejabat.

Dua minggu lalu, saya kena getahnya. Kembali saya mimpi gigi tanggal. Kali ini bukan hanya satu, tapi tiga gigi sekaligus. Saya ngeri, ngeri melihat tampang saya yang ompong sana sini dan ngeri menghadapi tiga kematian sekaligus.

Saya jadi menghitung hari. Setiap deringan telepon menjadi saat yang mencekam. Kabar dukakah? Keluarga dekatkah? Setiap orang tua saya tak ada di rumah, saya jadi berprasangka buruk. Melayat lagikah? Dag – dig – dug, jantung saya terus berdebar. Seperti mengetahui apa yang akan datang tanpa tahu kapan waktunya tiba. Yang ada hanya menunggu. Dan kejadian itu berulang, tiga kematian terjadi di sekeliling saya.

Jadi benarkah mimpi itu firasat atau petanda?

Mimpi_lagiJujur, saya paling tidak suka kematian. Tak tahu bagaimana menahan tangis dan menghibur orang yang kehilangan. Saya sulit tegar dan masih menggugat kematian. Untuk apa ada kematian, untuk apa ada perpisahan? Satu – satunya jawaban yang bisa saya terima adalah, seseorang harus meninggal guna memberi tempat bagi individu lain. Kematian ada memberi keseimbangan dalam kehidupan. Meski demikian, rasio kematian dan kelahiran tak mungkin berimbang karena manusia lebih mampu menghadapi kelahiran daripada kematian.

Terkadang, saat mimpi itu datang, saya merasa bertanggung jawab. Dengan demikian, saya tahu kematian akan menghantui orang – orang yang saya sayang. Semua tinggal menghitung hari. Saya… tak mau mimpi gigi tanggal lagi.

Sementara

Sadarkah kamu? Ini semua hanyalah sementara. Senyumku, kerelaanku, bahkan pengorbananku, bukanlah sesuatu yang tulus diberikan. Tapi paksaan, atas nama waktu yang sementara ada dan akan berlalu. Waktu yang menipis, yang terkadang membuat sulit untuk bernafas.

Semua atas nama toleransi. Membuatmu bahagia, sementara. Setidaknya kenyataan tidak harus dihadapi sekarang. Dan untuk sementara, kita bahagia, bersenang – senang, bersuka cita. Bukankah itu yang dicari manusia? Bukankah kebahagiaan yang diimpikan umat manusia? Aku tidak merencanakannya sedari awal. Semua, seperti yang kau rasakan, mengalir apa adanya. Selangkah demi langkah berjalan menyusuri lorong gelap gulita.

TimeJika kau menikmatinya, jatuh cinta padanya, berniat mengubah waktu yang sementara menjadi abadi, pikirkan baik – baik. Apa yang kamu rasakan hanyalah topeng, kelambu putih yang terus membuatmu rabun. Dan buta. Pernahkah terbersit di pikiranmu bahwa selama ini kau hanya bercumbu dengan topeng tak bernyawa? Atau mungkin kita hanyalah dua patung yang pandai membohongi diri masing – masing.

Sementara itu, biarlah kita memadu kasih, menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

Life is not a fairy tales…

Pernahkah anda menonton dan merasa kisah hidup anda diputar di layar kaca?

Saya baru mengalaminya. Itu kisah saya. Cerita bergulir di situasi dan keadaan berbeda, namun tantangan, masalah serta respon tokoh utama begitu mencerminkan diri saya. Semakin lama semakin larut. Tidak salah lagi...itu saya.

TvTak heran saya begitu menggandrungi serial ini. Ceritanya picisan, dan begitulah hidup saya. Saking dramatisnya hingga layak diganjar piala vidia. Mungkin manusia memang menginginkan drama dalam hidupnya. Adrenalin terpacu seiring ruwetnya kehidupan. Alhasil, menonton kisah itu serasa menertawakan diri sendiri. Saya menangis, tertawa, bahkan menaruh kasihan pada si empunya cerita, yang notabene kisahnya setali dua tali dengan saya. Apa sesungguhnya saya minta dikasihani? Atau berusaha lari dari kenyataan?

Apa boleh buat. Hidup memang jauh dari negeri dongeng. Cerita fiksi boleh berakhir, tapi hidup terus berjalan. Permasalahan layar kaca selesai begitu jam tayang usai. Sebaliknya, mimpi buruk saya tak begitu saja pergi saat bangun tidur. Rasanya tidak adil. Usai menonton kisah itu, saya seperti dibohongi. Tidak, bukan begini kisah hidup saya. Rumus ”happily ever after” tidak berlaku disini. Keberuntungan dan kejadian menyenangkan tidak sekonyong – konyong datang selepas kau mengalami hari yang buruk. Hidupmu....hanya berlanjut...berjalan....tanpa henti....

Guilty Pleasure

Saya bahagia. Saya akui saya menikmatinya, tapi toh saya merasa bersalah. Bersalah karena saya bahagia. Segenap jiwa berusaha meredam, mengumpulkan logika merasionalkan alasan. Tidak lepas menanggapi perasaan.

"Jangan...jangan...jangan bahagia...."

GuiltySemua campur aduk. Guilty pleasure. Bahagia yang terpenjara, atau merasa bahagia meski dalam penjara? Ayo... carikan aku jawaban dan jalan keluar. Hingga perasaan bersalah bercerai dengan kenikmatan. Hingga tak ada lagi penjara, tak ada lagi vonis. Yang tersisa hanyalah bahagia.

Haruskah ada alasan untuk bahagia? Haruskah harga terbayar untuk tersenyum? Haruskah bahagia mengalahkan rasa bersalah?

But I....deserve this....

Saya berhak untuk bahagia. Saya memilih untuk berbahagia. Dan tak perlu ketokan palu meja hijau mengukuhkan itu. Saya....hanya beruntung mengalaminya.

Terlambat

Telat"You're late..."

"You're early..."

Antara terlambat dan datang lebih awal akhirnya menjadi pertarungan kekuasaan tanpa akhir. Saat saya datang lebih awal, kamu terlambat. Lain waktu, kamu hadir jauh lebih dini, meski tahu saya sering terlambat.

Siapa yang menunggu? Kita pun masih berdebat. Apakah menunggu dan ditunggu menentukan posisi? Yang kalah penting menunggu yang lebih penting? Kekuasaan diukur dari siapa menunggu siapa?

Aku datang lebih awal karena aku menghargaimu. Kamu terlambat, mengubah dirimu jadi aku, bengan dalil berusaha mengerti.

Yang ada, kita tidak pernah bertemu.

Yang ada, kita menyalahkan waktu.

Yah...waktu....Tik...tok...tik...tok....

Waktu yang tidak pernah berhenti, waktu yang tidak pernah menunggu.

"Belum waktunya..."

"Waktunya tidak tepat..."

"Biar waktu yang bicara..."

AH...bedebah!!!

Buat apa mempersoalkan waktu yang begitu egois berjalan tanpa memperdulikan yang lainnya? Penghiburan sematakah? Kita salahkan waktu yang tidak bisa membalas, kita salahkan hukum alam yang sudah kita pahami benar keberadaannya.

Kenyatannya, kita tidak bersama, kita tidak pernah bertemu, tamat sudah.

Pajak

Besok, 31 Maret 2008, adalah hari terakhir pengembalian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (SPT). Di kantor, informasi ini tertempel hampir di setiap lantai, disertai ”himbauan”, yang terlambat akan dikenai denda 100ribu. Nyatanya, dari omong – omong yang beredar, banyak karyawan berniat mangkir dari proses ini. ”Lebih baik didenda aja deh.” Saya, yang berstatus pegawai kontrak, cukup ’beruntung’ karena ga ikutan ribet. Pikir saya pajak sudah langsung dipotong kantor, saya terima bersih, ga repot.

Pengetahuan saya tentang pajak sangat minim. Yang saya tahu pajak itu dibutuhkan untuk pembangunan jalan tol, pelayanan kesehatan gakin, subsidi bahan bakar, persediaan beras bulog dll.

Kata ’pajak’ juga saya kenal saat melihat demonstrasi kebijakan pemerintah. Masyarakat protes karena pemerintah menghambur – hamburkan uang rakyat. Ya, pemerintah ini dibiayai oleh masyarakat yang didapat dari pajak. Masyarakat bayar pajak, uangnya dikumpulkan untuk membiayai pemerintahan. Termasuk di dalamnya membayar gaji anggota DPR yang kurang lebih 90 juta perbulan, membayar ongkos perjalanan studi banding keliling dunia sampe membayar cucian baju pejabat.

Saya selama ini adem ayem karena tidak pernah merasa membayar pajak, wong yang selama ini saya terima bersih. Belum lagi saya sering dapat pekerjaan sampingan yang tidak terkena pajak. Jadi aman.

Pajak_1Sampai saya mendengar curhatan teman saya. Dia pusing tujuh keliling dengan pajak. Sebulan belakangan dia dibombardir pengetahuan sistim pajak yang membuat dia protes. Ia ’protes’ karena menjadi orang baik. Yang patuh membayar pajak, menyisihkan hampir 50% penghasilannya untuk sesuatu yang tidak ’jelas’. Hasil usaha keras dan kerja ’jual jantung’ harus dia bagi dengan orang lain.

Dia ’berontak’ karena memilih menjadi orang baik yang mengikuti sistim, ketimbang mengikuti jejak pelaku bisnis yang menggelapkan pajak miliaran rupiah. Dia sedih, karena memilih melawan arus.

Jika ibu, bapak saya sakit, akankah pajak yang saya serahkan bergilir membantu saya?”

Dia ’kecewa’ karena mengambil resiko memberikan sesuatu yang besar, untuk sesuatu yang tidak pasti. Pemerintahan yang penuh korupsi, uang yang diberikan tak jelas jeruntungannya dan tak tahu untuk apa. Seperti membuang garam ke laut, namun yang dibuang bukanlah garam, tapi batu permata, sesuatu yang dihasilkan dengan cucuran keringat.

Jika begitu besar pelaku bisnis triliunan rupiah bisa lolos dari sistim pajak, mengapa ia yang penghasilan tidak seberapa harus terkena imbas pajak bertubi – tubi? Ia berduka karena memilih menjadi ’korban’ dari sistem yang tidak adil ini.

Saya tidak tahu harus berbuat apa. Ia satu – satunya orang yang bisa membuat saya diam membisu, tak tahu berkata apa. Setiap kata yang keluar sepertinya salah. Dia sedang berduka. Saya diam. Memang, bukan saya yang berada di posisinya, yang harus mengorbankan separuh penghasilannya.

Awalnya saya pikir ini tentang uang, makanya saya protes dan dia pun marah karena saya dianggap tidak mengerti. Namun ini bukan tentang uang, tapi penyerahan, menyerahkan sesuatu yang berharga darimu kepada sesuatu yang tidak pasti. Jika kamu memiliki emas permata, tentunya kamu tidak menyerahkannya pada anak kecil.

Tapi dia belajar, belajar untuk bersabar, belajar mengerti sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat. Belajar melangkah dengan iman. Ia belajar dan menanti saatnya emas permata itu akan ia serahkan.

Pajak2Tidak mudah memang menjadi orang baik, yang patuh pada peraturan dan menentang arus. Saya hanya percaya apa yang dilakukannya tidak sia – sia. Manusia memang mengecewakan, namun Tuhan pasti peduli dan memperhatikan apa yang dia perbuat. Bahwa suatu saat nanti, emas permata yang ditabur akan membuahkan emas permata berharga lainnya.

Tidak adil memang memberikan Tuhan sebagai jawaban, karena Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didebatkan lagi. Saya harap ini bukan sekedar basa – basi penutupan, namun sebuah doa agar dia kuat.

Semoga ia bisa tidur nyenyak malam ini....

Intuisi

Intuition: 1. Quick and ready insight

2 a: immediate apprehension or cognition

b: knowledge or conviction gained by intuition

c: the power or faculty of attaining to direct knowledge or cognition without evident rational thought and inference

Apa itu intuisi? Samakah ia dengan indera keenam? Apakah setiap orang memiliki intuisi, atau hanya segelintir yang menerimanya?

IntuisiAtau begini, potensi itu sebenarnya ada pada setiap manusia. Yang membedakannya kemudia adalah bagaimana orang tersebut menindaklanjutinya. Semakin sering anda meresponi intuisi itu, semakin terasal pula kemampuannya. Benarkah demikian?

Ataukah intuisi akibat dari sebuah kedekatan. Anak kembar mampu merasakan perasaan saudara kembarnya. Seorang ibu memiliki intuisi yang kuat terhadap sang anak meski mereka berjauhan (ASI diyakini alasan kuat adanya ikatan batin yang kuat antara keduanya). Lalu bagaimana pula dengan suami istri? Ikatan jasmani, rohani dan emosional seringkali mendorong adanya intuisi. Hingga tidak heran saat salah satu tertimpa kemalangan, pertanyaan bagi pasangan yang lain adalah ‘apakah ada firasat yang dirasakan?’

Cermin pecah, foto keluarga atau pernikahan jatuh tiba – tiba, cincin pernikahan hilang, kejadian di atas sering diyakini sebagai petanda bahwa ada kekuatan supranatural yagn berusaha memperingati kita bahwa hal buruk sedang mengancam orang yang kita sayangi. Jika itu benar, apa yang harus dilakukan?

AngelHari ini intuisi saya berbicara. Saat tengah hari bolong, perasaan aneh merasuk. Detak jantung melacu cepat tanpa alasan. Saya gusar, tidak tenang, tidak nyaman. Semua bertentangan dengan situasi nyata yang dialami. Rasanya ada yang tidak beres. Hal pertama yang saya lakukan adalah berharap intuisi saya salah, tak ada orang yang ingin orang yang disayanginya celaka. Namun, jika itu benar, hanya satu yang bisa dilakukan, berdoa. Jika memang kemalangan menghantuinya, saya percaya kekuatan doa mampu mengindahkan dia dari celaka.

Intuisi seringkali dikaitkan dengan kemalangan, hal yang negatif. Sebaliknya, kita juga bisa melihat intuisi sebagai momentum tuk waspada, lebih hati – hati menjalani hari. Intuisi juga meminta kita untuk memikirkan orang lain, mereka yang kita sayangi. Agar sekurangnya kita berdoa untuk kebaikan mereka.

Intuisi bisa benar, bisa juga meleset. Semua terpulang pada kepekaan anda. Atau semua hanyalah kebetulan. Yang jelas, memiliki intuisi tidak membuat anda menjadi jagoan. Yang ada anda menjadi penjaga, guardian dari orang yang anda sayangi. Yang setia memikirkan, berdoa dan berharap hal yang terbaik bagi mereka.

Nikmatilah, ini anugerah.

Kemantapan Hati

Brake_2Berawal dari reuni SD yang semakin rutin diadakan, dan entah kenapa acara yang seharusnya jadi ajang silahturami berubah jadi ajang curhat. Temanya satu, patah hati. Satu persatu mengeluhkan kisah cintanya yang krisis dan kandas di tengah jalan. Kisahnya beragam dan kadang sulit dimengerti.

Ada si A, sudah 3 tahun pacaran. Semua berjalan baik – baik saja, sampai saat tuntutan melangkah ke jenjang berikut mulai didengungkan dan keraguan mulai muncul. “Gw ga ada masalah pacaran sama orang ini, tapi untuk menikah dengan dia, nanti dulu” curhatan si A mulai meluncur sampai saya balik bertanya. “Kalo orang ini ga mau loe nikahi, buat apa pacaran?”

Sepertinya ada perbedaan antara pacaran dan pernikahan. Dan saya setuju, cinta saja tidak cukup menjadi dasar pernikahan. Bisa jadi orang yang kamu nikahi berbeda dengan orang yang kamu pacari. Bisa jadi kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cinta – cinta amat, cintanya biasa saja, tapi orang ini sepadan dan mampu mengimbangi kamu hingga dialah yang terpilih. Kata orang, cinta itu bisa dipelajari belakangan.

Lalu datang si B, pacaran hampir 10 tahun, siap nikah, cocok setengah mati, namun akhirnya ngotot putus juga. Dan hebatnya lagi saat keputusan itu keluar, jalur komunikasi mereka putus begitu saja. Padahal selama 10 tahun setiap hari telpon, sms dan bertatap muka, tapi semua berhenti begitu saja. Tiba – tiba sosok yang menemani setiap hari musnah di tengah kemelut percekcokan dan mereka berubah menjadi orang asing.

Saya lalu bertanya, apa dia tidak menyayangkan sejarah 10 tahun yang sudah tertoreh? Jawabnya tidak, malah sedikit lega karena masalah yang menumpuk sejak lama akhirnya selesai juga. Saya kagum, bagaimanapun juga, dibutuhkan lebih dari keberanian untuk berhenti di usia 10 tahun. Yah, apalah artinya 10 tahun dibanding sisa hidup 55 tahun (kita pukul rata usia manusia 80 tahun) hidup dalam sebuah penyesalan.

Tidak laki – laki, tidak perempuan, semua datang dengan pergumulan. Sayangnya di antara 10 teman yang hadir, tak satupun dari kami yang sudah menikah. Akhirnya saya, harus jadi telinga curahan hati mereka.

BrokeSaya sampai gerah, saat si C datang, langsung saya todong pertanyaan. “Loe ga putus kan? Loe baik – baik saja kan?” dan virus itu memang menular, si C baru saja putus. Hubungan 3 tahun terhenti dengan kata yang terucap begitu saja. “Kita putus” Tak ada pertanyaan lebih lanjut, tak ada penolakan, tak ada penjelasan, semua mengalir begitu saja dan selesai sudah. “Gw bosen!” itu alasannya saat ditanya kenapa kata “putus” bisa keluar dari mulutnya. Well….ukuran 3 tahun memang jangka waktu yang panjang. Bukankah rasa jenuh sudah termasuk dalam paket hubungan jangka panjang? Apa iya kamu tidak pernah memperhitungkannya? Jenuh, bosan, itu mah biasa banget.

“Lagipula yang bersangkutan tidak menolak, tidak menahan, tidak melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan ini. Jadi, kita sudahi saja.” Wah..jika kamu mempertaruhkan status hubungan hanya untuk diperhatikan dan ingin dibujuk, saya tak tahu harus bilang apa. “Yah sudahlah, mungkin belum jodoh.” Komentar standar saya.

Curhat paling heboh datang dari si D. Mereka sudah siap nikah, pembicaraan dengan orang tua sudah dilakukan, proses beli rumah sudah direncanakan matang dan semua musnah saat pasangan diketahui berselingkuh. Nah, ini baru cerita. Kami semua semakin intens mendengarkan. “Bagaimana ceritanya bisa ketahuan, trus orang tuanya gimana, apa kamu langsung lihat dengan mata kepala sendiri?” Cerita semakin seru. Intinya pasangan mengaku saat ditanya ada orang ketiga. Teman saya siap nikah, tapi tidak demikian dengan pasangannya. Beberapa kali si D ingin kembali ke pelukan kekasih, namun segera kami cegah. “Udah deh, bersyukurlah kalau semua terbongkar saat janji nikah belum terucap, memang mungkin belum jodoh.” Nasihat teman lain.

LovePutus, kabar ini semakin sering saya dengar. Hari ini kembali sepasang teman saya diguncang krisis, tahunan sudah jalinan kasih mereka terjalin dan jujur, tak pernah sedikitpun terbersitkan di pikiran kalau mereka akan putus. Mereka sudah jadi pasangan idola, panutan dan impian. Ini mungkin jadi kebanggaan sekaligus beban untuk mereka. Entah apa masalahnya, dan sebagai orang luar, saya tak perlu tahu karena saya sama sekali tidak terlibat di dalam hubungan tersebut. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka, apapun itu, haruslah yang terbaik.

Ok, saya sudah bersikap bias dengan hanya menceritakan berita duka. Saya harus mengimbanginya dengan berita sukacita. Selain kabar putus, beberapa undangan pernikahan juga berdatangan. Sore tadi, sohib saya, sebut saja si E, mengabarkan bahwa pernikahannya dipercepat. Semua persiapan sudah mantap, baik jasmani dan rohani. Kemantapan hati mematangkan mereka untuk melangkah ke pelaminan awal bulan depan. Saudara ipar saya juga mantap mengucapkan janji nikah desember nanti, belum lagi adik kelas yang mengundang saya tuk datang ke pernikahannya di luar kota dan akomodasi lengkap ditanggung.

Wah…sepertinya tahun ini memang tahun pemantapan hati, antara kabar putus ataupun nikah, yang saya lihat, teman – teman saya berubah jadi sosok yang berani membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Mengambil kekuatan untuk menentukan arah pasti dalam hidup mereka dan itu harus diacungi jempol. Tetap semangat teman…

My Photo

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31