Changes

People change ven....

Sucks right?

Saat kamu melangkah pasti, tiba – tiba semuanya berubah.

Tiba – tiba sekitarmu menghianatimu.

Menusuk dari belakang,

meninggalkanmu,Change

membelot,

berbalik menantangmu.

Kau,

sendiri.

Tertinggal.

People change.....

Bukankah tak ada yang pasti di dunia ini selain perubahan itu sendiri?

Mungkin aku yang harus berubah.

Kalau iya...

aku membenarkan bahwa people do change.

Kalau aku tidak berubah,

aku mengangkangi seluruh dunia.

Bagaimana?

                            

Fiksi Nyata

A memutuskan bercerai.

Fiction2B lain lagi. Keraguan menyergap bagai virus kanker mematikan, lantaran hari H di pelupuk mata. Kurang sebulan harusnya ia mengikat janji sehidup semati di pelaminan dan kebimbangan memberikan sugesti membatalkan semuanya.

C mempercepat pernikahan demi selembar pengesahan di lembar lahir bayi.

D nekat kawin lari, nikah di bawah tangan atas nama cinta.

E dengan jujur mengatakan jumlah perempuan yang ditidurinya jauh lebih banyak saat menikah ketimbang waktu pacaran

F yang kutahu, sedang berjuang mengalahkan retrovirus yang menghancurkan sistem kekebalan tubuhnya.

Sebaliknya, G memberitahuku, hasil laboratorium negatif membuatnya memiliki nyawa baru.

H tewas kecelakaan,

I meninggal di usia muda, akibat penyakit bawaan

Ini bukan plot sinetron. Bukan juga cerita roman picisan. Ini kisah nyata yang dialami orang - orang sekitar saya. Yang saya kenal, pahami, mengerti.
Jelas di luar sana masih banyak kisah yang tak kalah menarik dari apa yang kita kunyah di layar fiksi.

Sering kali kita terinsipirasi dengan apa yang kita tonton, tapi justru kisah kitalah yang mengilhami sang sutradara merangkai kisah fiksi.
Sering kali kita menonton, namun sebenarnya kehidupan kitalah yang lebih sering ditonton dan diamati.
Kalau saja kita sadari mana yang nyata, mana yang semu.

Berkorban untuk sahabat?


Agama saya mengajarkan agar umatnya berkorban bahkan mati untuk sahabat. Dalam hati saya bertanya, kenapa sahabat? Akankah lebih masuk akal jika pengorbanan dilakukan atas nama orang tua, anak, pasangan atau setidaknya saudara sedarah?

TemanDitilik dari industri film, soal pengorbanan memang sering dijadikan plot untuk jualan. Life is beautiful misalnya, mengisahkan seorang ayah, Guido, yang berkorban untuk Joshua, anaknya. Ketika Guido berjalan dengan wajah komikal, memberikan senyum lebar untuk anaknya, sesaat menjelang ajal, saya menangis. Bahkan rasa tak percaya berkecamuk begitu peluru menghujam tubuh dan Guido tewas. Tidak rela, tapi begitulah pengorbanan ayah, agar anaknya hidup. Pengorbanan tersebut terbayarkan waktu Joshua berdiri tegap di atas tank, tersenyum bangga atas hadiah utama yang dijanjikan ayahnya. Saya pun tersenyum dengan linangan air mata.

Pengorbanan dalam relasi orang tua – anak memang paling dramatis. Paling menguras air mata dan juga paling masuk akal. Pengorbanan pasangan juga jadi favorit. Motivasinya cinta dan tidak habis – habisnya kita mengagungkan pengorbanan cinta.

 

Film fenomenal Titanic mengisahkan Jack yang menolak berbagi beban, terapung di lautan es demi Rose. Moulin Rouge menjual kisah Satine yang 'terpaksa' bohong, mengusir kekasihnya, bahkan nyaris menyerahkan diri pada Duke agar Christian, sang pujangga hati selamat. Atau yang terbaru, bagaimana Rachel Dawes mengucapkan perpisahan untuk Harvey Dent, berharap agar tunangannya yang diselamatkan, bukan dirinya.

Tapi bagaimana dengan teman? Salah satu plot pengorbanan teman yang saya ingat yaitu sewaktu Spiderman, diselamatkan Harry Osborn, New Goblin, sahabatnya yang tiba – tiba bertobat. Kritikus film Indonesia, peraih piala citra mencatat film ketiga Spiderman itu sebagai flop, tak lain dari film kacangan kelas III. Yup, pengorbanan atas nama teman memang sulit dicerna, kurang masuk diakal. Siapakah teman itu hingga layak mendapat pengorbanan nyawa? Teman tidak punya ikatan darah, tidak ada komitmen, tidak ada relasi ketergantungan yang mengikat. Apa yang tersisa?

Kalau New Goblin rela mati demi Spiderman, saya tidak yakin Spiderman rela mati demi New Goblin. Buat apa? Toh sekedar teman. Begitulah dalam berteman, apapun yang kau lakukan, belum tentu perlakuan serupa yang kau terima. 

Teman2Itulah mengapa saya bertanya – tanya saat Tuhan saya bersabda dalam Yohanes 15: 13 “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Mengapa kasih yang terbesar justru diberikan untuk teman? Referensi yang sering dipakai adalah persahabatan Daud dan Yonatan. Ketika Saul, raja Israel, ayah Yonatan ingin membunuh Daud, Yonatan berjuang menyelamatkan nyawa sahabatnya, termasuk membelot, berbohong pada ayahnya. Ia lebih mendukung Daud ketimbang ayahnya.

Kenapa sahabat? Saya tidak tahu. Mungkin justru dari sahabatlah kita bisa belajar cinta kasih sesungguhnya. Dan mungkin inilah yang ingin Tuhan sampaikan, bagaimana kau mempertaruhkan sesuatu yang berharga, untuk sahabatmu tanpa pamrih. Tak ada balasan, ikatan, komitmen ataupun paksaan. Kamu hanya memberi. Iklas. Bukan karena temanmu yang luar biasa, tapi hanya karena kau mengasihi dia. Tulus.

Saya masih belajar.   

Tak ada gading yang tak retak

Nikah2Harusnya pribahasa di atas ditegaskan kepada setiap sejoli yang memutuskan menikah. Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula pernikahan. Jika anda membayangkan mahligai pernikahan akan membuahkan kisah “happily ever after”, maaf saja, anda pasti kecewa.

Banyak perempuan mengaku sedari kecil dirinya bercita – cita ingin jadi pengantin. Berdandan manis, dengan gaun putih, didampingi pujaan hati dan mengucapkan janji setia sehidup semati. Ini juga dipertegas dalam bacaan cengeng negeri dongeng. Lima sekawan Cinderella, Putri Salju, Putri tidur, Little Mermaid, Beauty and the Beast, menawarkan akhir cerita yang serupa. Gadis cantik, sedikit terpuruk namun diselamatkan oleh pangeran menawan. Akhir cerita ditulis, mereka menikah dan bahagia untuk selama – lamanya.

Ok…saatnya melihat realita. “Happily ever after” hanya terjadi di cerita dongeng. Get real…..Saya beruntung tidak pernah ‘begitu amat sangat ingin menikah’ dari kecil, bahkan hingga sekarang. Bersyukur saya terbebas dari ‘kutukan’ impian kolot itu. Akhirnya saya bisa melihat pernikahan lebih nyata tanpa acuan buku dongeng.

Pernikahan itu kerja keras, tidak mudah dan sama seperti gading gajah, tak ada yang sempurna, semuanya penuh retak. Coba bayangkan, manusia diciptakan begitu berbeda. Jangankan, berbeda jenis kelamin, anak kembar identik pun sulit disatukan. Hingga menyatukan dua individu ke dalam satu biduk rumah tangga menjadi pekerjaan yang mustahil. 

Nikah_3Mustahil, tapi toh jutaan pasangan di dunia unjuk keberanian melangkah ke pelaminan setiap tahunnya. Nekat? Bisa jadi, namun gelar ‘nekat’ harusnya diberikan kepada mereka yang memutuskan bercerai dalam hitungan tahun dengan alasan ‘tidak ada kecocokan’. Hmm….seperti yang saya katakan tadi, ketidakcocokan merupakan sesuatu yang alami dan tidak bisa dihindari. Belum lagi, situasi berubah, politik, kesehatan, keberuntungan berubah dan jangan lupa, sifat orang pun bisa berubah. Jangan heran jika anda bangun dan menemukan orang yang berada di samping anda, bukan dia yang kau nikahi dulu. Perubahan itu sesuatu yang pasti akan terjadi. Tidak ada kecocokan? Yah memang akan tidak cocok.

Pendapat lain mengatakan, pernikahan bak penjara seumur hidup. Dan jika anda umat kristiani, anda layak mendapat ucapan selamat dua kali. Bahkan Tuhan dan gereja-mu melegalkan ‘penjara seumur hidup’ tadi. Perjuangan akan lebih dahsyat karena tidak bisa seenaknya kawin cerai. Mengurus perceraian lebih rumit daripada permasalahan yang membuat anda bercerai. Dan lengkaplah sudah.

Saat berita perceraian datang, saya berduka. Menanyakan alasan perceraian pun rasanya enggan, saya lebih ingin menanyakan alasan mereka menikah diawalnya. Dan sisanya menanyakan kabar mereka. Mereka pasti jauh lebih berduka daripada saya. Menyesal memang datang belakangan.

Teman saya bilang, kebahagiaan itu diciptakan. Saya setuju. Kebahagiaan tidak datang sendirinya. Butuh kerja keras untuk menciptakan itu. Untuk semua sahabat yang memutuskan menikah, saya selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Kalianlah pencipta kebahagiaan itu. Terus berjuang yah….

Virus Bahagia

Happy_1“Percaya ga kebahagiaan itu menular…?

Jika kamu melihat orang yang kamu sayang tersenyum lebar tanpa henti,

mencerminkan raut ceria bak anak kecil mendapatkan hadiah impiannya,

kamu pasti turut bahagia.

Bahkan berkali lipat lebih bahagia. 

Rasa itu menggunung, memuncak,

menjulang tinggi menembus awan.

Dia bahagia,

dan kamu tertular berbahagia melihatnya bahagia.

Dia,

memberikan alasan untukmu bahagia.

Kebahagiaan bak virus yang menular

Selamat…”.

Mimpi

Bermula dari mimpi….

Saya pemimpi. Dalam arti sebenarnya, bunga tidur selalu menghiasi malam lelap saya. Dalam keadaan normal, tidak terlampau capai dan tidak terburu – buru tidur, visualisasi imajinasi berputar layaknya film usang. Tampak, namun tak jelas. Tersamar dan sulit diidentifikasi. Saat bangun saya mampu mengingat kilasan cerita mimpi tadi. Syaratnya satu, biarkan saya terbangun sendirinya. Membangunkan paksa justru membuyarkan gambaran mimpi tersebut.

Saya tidak bisa mengatur mimpi apa saya malam ini. Ini bukanlah layar bioskop dimana kamu bisa memilih film apa yang ingin ditonton. Tapi lebih seperti nonton TV, terima jadi, apa yang ditayangkan, itulah yang dilihat.

MimpiPuas mengingat mimpi, saya berniat naik ke level berikutnya. Mengartikan mimpi. Saya kerap bertanya – tanya, adakah pesan khusus yang terkandung di dalamnya? Di alkitab, mimpi firaun yang ditafsirkan Yusuf mampu menyelamatkan bangsa Israel. Jaman undian SDSB dulu, sampai dibuat buku terjemahan mimpi ke dalam angka. Segala macam mimpi, mulai dari naik sepeda, makan bakso sampai tenggelam di sungai, semua ada angkanya. Angka inilah yang kemudian didaftarkan ke panitia “judi legal” jaman Suharto. Jika beruntung, angka anda keluar sebagai pemenang dan mendapatkan uang tunai. Well…Saya tidak berniat jadi Satrio dipinggit untuk Indonesia, juga bermimpi menang undian miliaran rupiah. Saya juga tidak bermaksud mengkomersialkan arti mimpi seperti Mama Lauren. Cukup hal – hal sederhana dan untuk konsumsi pribadi.

Dan permintaan saya dikabulkan. Suatu hari saya bermimpi gigi saya tanggal dan seorang teman memberitahu, mimpi gigi tanggal berarti akan ada kematian. Gigi rahang atas mewakili orang lebih tua, gigi bawah tuk mereka yang lebih muda. Awalnya saya acuh tak acuh, saya memang sensitif dengan gigi. Buat saya, mimpi gigi tanggal merupakan manifestasi ketakutan saya terhadap dokter gigi. Namun setelah beberapa kali kejadian, saya jadi lebih awas.

GigiKurang dari seminggu, kabar duka mampir ke rumah. Saudara jauh, yang sudah sepuh, kembali ke pangkuan Pencipta. Hmm….kebetulan sematakah? Kali kedua mimpi itu datang, saya jadi menunggu. Dan benar saja, dalam beberapa hari, keluarga saya harus kembali ke rumah duka, melawat yang ditinggalkan. Saya belajar, gigi tanggal berarti kematian. Dan kematian di sini tidak termasuk meninggalnya orang terkenal, artis maupun pejabat.

Dua minggu lalu, saya kena getahnya. Kembali saya mimpi gigi tanggal. Kali ini bukan hanya satu, tapi tiga gigi sekaligus. Saya ngeri, ngeri melihat tampang saya yang ompong sana sini dan ngeri menghadapi tiga kematian sekaligus.

Saya jadi menghitung hari. Setiap deringan telepon menjadi saat yang mencekam. Kabar dukakah? Keluarga dekatkah? Setiap orang tua saya tak ada di rumah, saya jadi berprasangka buruk. Melayat lagikah? Dag – dig – dug, jantung saya terus berdebar. Seperti mengetahui apa yang akan datang tanpa tahu kapan waktunya tiba. Yang ada hanya menunggu. Dan kejadian itu berulang, tiga kematian terjadi di sekeliling saya.

Jadi benarkah mimpi itu firasat atau petanda?

Mimpi_lagiJujur, saya paling tidak suka kematian. Tak tahu bagaimana menahan tangis dan menghibur orang yang kehilangan. Saya sulit tegar dan masih menggugat kematian. Untuk apa ada kematian, untuk apa ada perpisahan? Satu – satunya jawaban yang bisa saya terima adalah, seseorang harus meninggal guna memberi tempat bagi individu lain. Kematian ada memberi keseimbangan dalam kehidupan. Meski demikian, rasio kematian dan kelahiran tak mungkin berimbang karena manusia lebih mampu menghadapi kelahiran daripada kematian.

Terkadang, saat mimpi itu datang, saya merasa bertanggung jawab. Dengan demikian, saya tahu kematian akan menghantui orang – orang yang saya sayang. Semua tinggal menghitung hari. Saya… tak mau mimpi gigi tanggal lagi.

Sementara

Sadarkah kamu? Ini semua hanyalah sementara. Senyumku, kerelaanku, bahkan pengorbananku, bukanlah sesuatu yang tulus diberikan. Tapi paksaan, atas nama waktu yang sementara ada dan akan berlalu. Waktu yang menipis, yang terkadang membuat sulit untuk bernafas.

Semua atas nama toleransi. Membuatmu bahagia, sementara. Setidaknya kenyataan tidak harus dihadapi sekarang. Dan untuk sementara, kita bahagia, bersenang – senang, bersuka cita. Bukankah itu yang dicari manusia? Bukankah kebahagiaan yang diimpikan umat manusia? Aku tidak merencanakannya sedari awal. Semua, seperti yang kau rasakan, mengalir apa adanya. Selangkah demi langkah berjalan menyusuri lorong gelap gulita.

TimeJika kau menikmatinya, jatuh cinta padanya, berniat mengubah waktu yang sementara menjadi abadi, pikirkan baik – baik. Apa yang kamu rasakan hanyalah topeng, kelambu putih yang terus membuatmu rabun. Dan buta. Pernahkah terbersit di pikiranmu bahwa selama ini kau hanya bercumbu dengan topeng tak bernyawa? Atau mungkin kita hanyalah dua patung yang pandai membohongi diri masing – masing.

Sementara itu, biarlah kita memadu kasih, menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

Life is not a fairy tales…

Pernahkah anda menonton dan merasa kisah hidup anda diputar di layar kaca?

Saya baru mengalaminya. Itu kisah saya. Cerita bergulir di situasi dan keadaan berbeda, namun tantangan, masalah serta respon tokoh utama begitu mencerminkan diri saya. Semakin lama semakin larut. Tidak salah lagi...itu saya.

TvTak heran saya begitu menggandrungi serial ini. Ceritanya picisan, dan begitulah hidup saya. Saking dramatisnya hingga layak diganjar piala vidia. Mungkin manusia memang menginginkan drama dalam hidupnya. Adrenalin terpacu seiring ruwetnya kehidupan. Alhasil, menonton kisah itu serasa menertawakan diri sendiri. Saya menangis, tertawa, bahkan menaruh kasihan pada si empunya cerita, yang notabene kisahnya setali dua tali dengan saya. Apa sesungguhnya saya minta dikasihani? Atau berusaha lari dari kenyataan?

Apa boleh buat. Hidup memang jauh dari negeri dongeng. Cerita fiksi boleh berakhir, tapi hidup terus berjalan. Permasalahan layar kaca selesai begitu jam tayang usai. Sebaliknya, mimpi buruk saya tak begitu saja pergi saat bangun tidur. Rasanya tidak adil. Usai menonton kisah itu, saya seperti dibohongi. Tidak, bukan begini kisah hidup saya. Rumus ”happily ever after” tidak berlaku disini. Keberuntungan dan kejadian menyenangkan tidak sekonyong – konyong datang selepas kau mengalami hari yang buruk. Hidupmu....hanya berlanjut...berjalan....tanpa henti....

Guilty Pleasure

Saya bahagia. Saya akui saya menikmatinya, tapi toh saya merasa bersalah. Bersalah karena saya bahagia. Segenap jiwa berusaha meredam, mengumpulkan logika merasionalkan alasan. Tidak lepas menanggapi perasaan.

"Jangan...jangan...jangan bahagia...."

GuiltySemua campur aduk. Guilty pleasure. Bahagia yang terpenjara, atau merasa bahagia meski dalam penjara? Ayo... carikan aku jawaban dan jalan keluar. Hingga perasaan bersalah bercerai dengan kenikmatan. Hingga tak ada lagi penjara, tak ada lagi vonis. Yang tersisa hanyalah bahagia.

Haruskah ada alasan untuk bahagia? Haruskah harga terbayar untuk tersenyum? Haruskah bahagia mengalahkan rasa bersalah?

But I....deserve this....

Saya berhak untuk bahagia. Saya memilih untuk berbahagia. Dan tak perlu ketokan palu meja hijau mengukuhkan itu. Saya....hanya beruntung mengalaminya.

Terlambat

Telat"You're late..."

"You're early..."

Antara terlambat dan datang lebih awal akhirnya menjadi pertarungan kekuasaan tanpa akhir. Saat saya datang lebih awal, kamu terlambat. Lain waktu, kamu hadir jauh lebih dini, meski tahu saya sering terlambat.

Siapa yang menunggu? Kita pun masih berdebat. Apakah menunggu dan ditunggu menentukan posisi? Yang kalah penting menunggu yang lebih penting? Kekuasaan diukur dari siapa menunggu siapa?

Aku datang lebih awal karena aku menghargaimu. Kamu terlambat, mengubah dirimu jadi aku, bengan dalil berusaha mengerti.

Yang ada, kita tidak pernah bertemu.

Yang ada, kita menyalahkan waktu.

Yah...waktu....Tik...tok...tik...tok....

Waktu yang tidak pernah berhenti, waktu yang tidak pernah menunggu.

"Belum waktunya..."

"Waktunya tidak tepat..."

"Biar waktu yang bicara..."

AH...bedebah!!!

Buat apa mempersoalkan waktu yang begitu egois berjalan tanpa memperdulikan yang lainnya? Penghiburan sematakah? Kita salahkan waktu yang tidak bisa membalas, kita salahkan hukum alam yang sudah kita pahami benar keberadaannya.

Kenyatannya, kita tidak bersama, kita tidak pernah bertemu, tamat sudah.

My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31