Bermula dari mimpi….
Saya pemimpi. Dalam arti sebenarnya, bunga tidur selalu menghiasi malam lelap saya. Dalam keadaan normal, tidak terlampau capai dan tidak terburu – buru tidur, visualisasi imajinasi berputar layaknya film usang. Tampak, namun tak jelas. Tersamar dan sulit diidentifikasi. Saat bangun saya mampu mengingat kilasan cerita mimpi tadi. Syaratnya satu, biarkan saya terbangun sendirinya. Membangunkan paksa justru membuyarkan gambaran mimpi tersebut.
Saya tidak bisa mengatur mimpi apa saya malam ini. Ini bukanlah layar bioskop dimana kamu bisa memilih film apa yang ingin ditonton. Tapi lebih seperti nonton TV, terima jadi, apa yang ditayangkan, itulah yang dilihat.
Puas mengingat mimpi, saya berniat naik ke level berikutnya. Mengartikan mimpi. Saya kerap bertanya – tanya, adakah pesan khusus yang terkandung di dalamnya? Di alkitab, mimpi firaun yang ditafsirkan Yusuf mampu menyelamatkan bangsa Israel. Jaman undian SDSB dulu, sampai dibuat buku terjemahan mimpi ke dalam angka. Segala macam mimpi, mulai dari naik sepeda, makan bakso sampai tenggelam di sungai, semua ada angkanya. Angka inilah yang kemudian didaftarkan ke panitia “judi legal” jaman Suharto. Jika beruntung, angka anda keluar sebagai pemenang dan mendapatkan uang tunai. Well…Saya tidak berniat jadi Satrio dipinggit untuk Indonesia, juga bermimpi menang undian miliaran rupiah. Saya juga tidak bermaksud mengkomersialkan arti mimpi seperti Mama Lauren. Cukup hal – hal sederhana dan untuk konsumsi pribadi.
Dan permintaan saya dikabulkan. Suatu hari saya bermimpi gigi saya tanggal dan seorang teman memberitahu, mimpi gigi tanggal berarti akan ada kematian. Gigi rahang atas mewakili orang lebih tua, gigi bawah tuk mereka yang lebih muda. Awalnya saya acuh tak acuh, saya memang sensitif dengan gigi. Buat saya, mimpi gigi tanggal merupakan manifestasi ketakutan saya terhadap dokter gigi. Namun setelah beberapa kali kejadian, saya jadi lebih awas.
Kurang dari seminggu, kabar duka mampir ke rumah. Saudara jauh, yang sudah sepuh, kembali ke pangkuan Pencipta. Hmm….kebetulan sematakah? Kali kedua mimpi itu datang, saya jadi menunggu. Dan benar saja, dalam beberapa hari, keluarga saya harus kembali ke rumah duka, melawat yang ditinggalkan. Saya belajar, gigi tanggal berarti kematian. Dan kematian di sini tidak termasuk meninggalnya orang terkenal, artis maupun pejabat.
Dua minggu lalu, saya kena getahnya. Kembali saya mimpi gigi tanggal. Kali ini bukan hanya satu, tapi tiga gigi sekaligus. Saya ngeri, ngeri melihat tampang saya yang ompong sana sini dan ngeri menghadapi tiga kematian sekaligus.
Saya jadi menghitung hari. Setiap deringan telepon menjadi saat yang mencekam. Kabar dukakah? Keluarga dekatkah? Setiap orang tua saya tak ada di rumah, saya jadi berprasangka buruk. Melayat lagikah? Dag – dig – dug, jantung saya terus berdebar. Seperti mengetahui apa yang akan datang tanpa tahu kapan waktunya tiba. Yang ada hanya menunggu. Dan kejadian itu berulang, tiga kematian terjadi di sekeliling saya.
Jadi benarkah mimpi itu firasat atau petanda?
Jujur, saya paling tidak suka kematian. Tak tahu bagaimana menahan tangis dan menghibur orang yang kehilangan. Saya sulit tegar dan masih menggugat kematian. Untuk apa ada kematian, untuk apa ada perpisahan? Satu – satunya jawaban yang bisa saya terima adalah, seseorang harus meninggal guna memberi tempat bagi individu lain. Kematian ada memberi keseimbangan dalam kehidupan. Meski demikian, rasio kematian dan kelahiran tak mungkin berimbang karena manusia lebih mampu menghadapi kelahiran daripada kematian.
Terkadang, saat mimpi itu datang, saya merasa bertanggung jawab. Dengan demikian, saya tahu kematian akan menghantui orang – orang yang saya sayang. Semua tinggal menghitung hari. Saya… tak mau mimpi gigi tanggal lagi.
Recent Comments