« April 2007 | Main | July 2007 »

Jodoh di Pekerjaan

VacancyMasa paling menyenangkan memang saat sekolah. Rata rata dari kita “dibayar” (oleh orang tua) untuk belajar. Lulus sekolah barulah mata terbuka. “Welcome to the real world Darling” atau lebih nyata lagi, “welcome to the jungle pal…” Kelar sekolah, bukan hanya gelar sarjana yang disanding, tapi juga gelar pengangguran. Tunjangan tak lagi deras mengalir, saatnya cari uang.

Sejak itu, tanpa sadar kolom lowongan jadi bacaan menarik. Edaran Kompas sabtu, yang menampilkan ratusan pekerjaan jadi rebutan. Banyak yang melamar, sedikit yang dipilih. Pengalaman jadi pengangguran buat saya berpikir, kok melamar pekerjaan serasa cari jodoh yah?

Kadang dia suka, saya tak suka. Kemaren ini saya ditelpon, mengaku majalah Investor. Saya diminta datang tuk wawancara. Langsung saya pontang - panting. Investor itu majalah apaan yah? Belum tuntas penyelidikan, saya ditelpon lagi. Orang itu bilang saya kandidat kuat, mereka suka saya, tapi bukan tuk jadi jurnalis, melainkan sekretaris direktur. Dengan manis saya tolak. “Mba, percaya deh, saya tak bisa duduk manis. Maaf yah”

Bisa juga kejadian, saya suka, dia tak suka. Seperti saat saya dilamar BBC (bukan tempat kursus les inggris, tapi institusi media jebolan inggris itu loh). Saya menerima panggilan sambil sumeringah. Gilleeee….BBC bo, posisi produser pula, sesuai latar belakang saya. Masuk kantor BBC serasa tak percaya. Seperti di film – film. Saya berasa jadi Michelle Pfeiffer di Up Close and Personal. Yang menguji langsung country director. Hampir 30 menit kita ngobrol panjang, sampai satu titik saya kaget. “Oh ini BBC radio yah, saya kira BBC TV“ hihihi saya ditolak, salah alamat.

Sering juga ketemu kondisi dimana kita sama – sama suka, tapi waktunya tidak tepat. Entah berapa proyek saya lepas karena urusan waktu. Saya keburu terikat institusi lain. Lagian herannya di Indonesia, setiap lamaran kerja tidak ditanggapi secara cepat.  Saya bisa ditelpon 3 bahkan 6 bulan setelah mengirim. Gimana donk, situ kalah cepat. Meskipun kita sama – sama suka, saya bilang saja. “Maaf yah, sepertinya kita belum jodoh.”

Hampir sama dengan waktu, kali ini tentang keadaan. Saya suka, dia suka, tapi keadaan tak memungkinkan, hingga kami harus putus di tengah jalan. Ini biasanya soal gaji. Tak ada kesepakatan antar keduanya, hingga “talak” jadi urusan.

Yang parah, ada juga yang brengsek. Tak hanya bilang tak suka, tapi juga menghancurkan. Pake alasan fisik, agama maupun ras. Sampai – sampai kepercayaan diri hilang. Sampai sampai kita berpikir ada yang salah sama kita. Padahal ini cuman masalah cocok tak cocok aja kok.

Untuk dapat yang serba pas, sama – sama suka, dengan waktu dan kondisi yang tepat, itu sama sulitnya dengan cari jodoh. Susah, tapi tidak berarti mustahil. Kamu harus terus percaya, kalo kamu layak mendapatkan yang terbaik.

Kesempatan saya datang melalui seorang teman. Yah, kami dijodohkan. Pekerjaan yang baik, yang saya sukai dan juga menyukai saya. Yang punya waktu dan kondisi yang tepat.

Saya merasa beruntung dan bersyukur punya teman bisa menjodohkan saya. Tapi teman saya balik mengungkapkan kalau semua itu kembali ke saya. Saya yang sukses menggali potensi, sukses mempersiapkan  diri. Giliran waktuya datang, saya tinggal dipersunting. Ia hanya media menjodohkan. Kuncinya ada pada saya.

KerjaBenar juga. Jadi pengangguran mungkin serasa jomlo, makan penolakan sehari – hari. Tapi bukan berarti putus harapan. Nenek bilang “kalo jodoh ga lari kemana.” Makanya jangan menyerah, persiapkan diri, tingkatkan potensi. Yakinlah, masih ada kok yang mau sama kamu. Percaya deh…

7:46 PM

“sendiri di kafetaria, sampe diganggu cowok ganteng ‘hai cewek…sendirian?’ =P”

                            

Jakarta, Semerawut 480 Tahun

Pernah main game komputer Sims City? Suksesnya permainan ini diikuti variasi mainan serupa. Sim Theme Park, Theme Hospital, Beach life, Rollercoaster Tycoon, Zoo Tycoon, dan banyak lainnya. Idenya sederhana, anda diberi tugas membangun, entah sebuah kota, taman hiburan, rumah sakit, pantai, atau kebun binatang. Anda bertanggung jawab sepenuhnya. Mencari nama, mengurusi lokasi, memuaskan pengunjung, bahkan hal – hal kecil seperti bangun kamar mandi, merekrut satpam, mendiamkan anak nangis ikut jadi urusan.

Kalau sudah pernah main, apa pernah juga alami ini? Saat tingkat kesulitan meninggi, masalah datang bertubi – tubi dan anda sadar, anda sudah salah dari awal. Salah menempatkan pintu rumah sakit hingga antrian penuh dan pasien pulang karena lelah menunggu. Salah menaruh posisi hotel di pinggir pantai, hingga tak ada tempat untuk bangun menara pos penjaga dan pengunjung banyak mati tenggelam di pantai. Semua orang teriak – teriak, tanda merah di mana – mana, duit anda menipis, anda hampir mati kalah. Saat seperti ini, dengan mudahnya kita menekan tombol reset. Sudah, hancurkan saja semuanya, kita ulang dari awal. Kesempatan kedua mungkin lebih baik.

Andai saja ini bisa dilakukan di dunia nyata.

Saat berkendara sendiri di ibukota, itulah yang saya rasakan. Di hari jadinya yang ke 480, Jakarta semakin semerawut, masalah di mana – mana, protes tak habis – habisnya, rasanya ga ada yang benar, semuanya serba salah. Coba pikirkan, mau perbaiki dari mana?Semuanya harus segera dibenahi. Semuanya penting.

Baru keluar pintu gerbang rumah, masalah sampah sudah menunggu. Jalan 100 meter, trauma banjir menghantui, akankah tahun depan saya akan kembali kebanjiran? Lampu merah pertama, kemacetan mendatangkan kisah klasik ibukota. Dari yang tadinya satu jam, molor 2-3 jam. Semakin lama saya semakin tua di jalan.

Masih banyak lagi, tentang kemiskinan, kriminalitas, politik, korupsi, narkoba, uang sekolah mahal, harga kesehatan selangit, perempuan teraniaya, sederet persoalan bagai luka terbuka yang mulai membusuk.

Andai kita tinggal di dunia Sim City, hingga tombol reset menjadi pilihan mudah. Kita ulang saja semua. Jakarta jadi sebongkah tanah kosong dan kita mulai menatanya satu persatu. Mana daerah serapan, mana pemukiman, mana daerah industri, komersil, sekolah dan rumah sakit. Andai saja….

Jakarta_1Jika dipikir – pikir 480 tahun Jakarta berdiri tanpa ada benang merah yang jelas. Awalnya hanya menjadi tempat perlindungan kaum kompeni dan juga menjadi pelabuhan kedua setelah banten. Setelah itu, setiap pimpinan memimpin tanpa ada blue print yang jelas. Mau dibawa kemana kota ini, kota metropolitan kah? Kota pemerintahan? Kota belanja? Kota pemukiman? Semuanya mau dan hasilnya semerawut. Tak ada perencanaan jangka panjang puluhan tahun. 5 tahun pemerintahan gubernur berjalan tanpa regenerasi. Yang diturunkan malah masalah yang menjadi PR besar tampuk berikut. Jika sekarang dibilang Jakarta salah urus, bisa jadi.

Selain ulang tahun, Jakarta juga berbenah menyambut pemilihan pilkada, memilih gubernur langsung, pertama kalinya. Banyak harapan tertuang, semoga perubahan lebih baik bisa terjadi. Saya pribadi cukup kecewa dengan tidak hadirnya perwakilan independent, cukup sedih melihat minimnya pilihan gubernur nanti. Adang atau Foke? Saya tak tahu.

Selamat ulang tahun Jakarta, semoga semakin banyak orang cinta padamu. Cinta yang murni, bukan yang dipolitisir…. I love you Jakarta.

Mission One: Loncat – loncat di atas kasur

Saya tidur, berbaring di kamar mungil berdinding merah jambu. Setelah 24 tahun berbagi kamar tidur, akhirnya kamar milik saya seorang diri. Rebahan di atas kasur ukuran single membuat saya berpikir. Sudah lama yah saya tidak loncat – loncatan di atas kasur.

Jumping_bedSeperti main trampoline, vennie kecil selalu curi – curi kesempatan tuk bisa berjingkrakan di atas kasur orang tuanya. Maklum, kasur special spring bed membuat badan terbang lebih tinggi ketimbang kasur kapuk. Ocehan mama pun kerap ia dengar

“jangan loncat – loncat kasur….nanti rusak…”

Padahal setiap kasur spring bed dipromosikan lengkap dengan garansi puluhan tahun. Belum lagi dalam iklan diperlihatkan bagaimana kuatnya pegas kasur itu. Pernah digambarkan seekor gajah menginjak – injak kasur, pernah juga mesin alat berat yang berfungsi meratakan jalan melindas kasur spring bed. Hasilnya? Alas tidur itu selamat tanpa ada kerusakan apapun. “Sudah diuji kan ketangguhannya!” begitu pembelaan saya dalam hati. Jika gajah dan alat berat saja bisa bermain di atas kasur, apalagi saya?

Alhasil saya selalu senang loncat – loncat di kasur. Kalau orang bule bisa main di atas trampoline, setidaknya saya punya trampoline versi saya.

Ok, kembali ke masa kini. Saya tak ingat kapan terakhir saya loncat – loncat bahagia di atas kasur. Sekarang, dengan kamar pribadi dengan pintu yang bisa dikunci kapan saja, saya bisa mengulangi masa – masa kecil tanpa rasa malu. Kebetulan ranjang saya spring bed. Jadi lengkaplah sudah.

Tips : Kalau tidak punya ranjang spring bed, anda bisa coba cari milik tetangga, orang tua, atau curi – curi coba di hotel atau apartemen baru. Dengan banyaknya apartemen yang sedang open house, anda bisa bergaya perlente, seperti orang berduit, lalu datang ke sana. Begitu lihat ada kasur spring bed nganggur, coba lakukan misi ini. Yah harus sedikit lebih cerdik memang. Ajak teman lain yang berfungsi mengalihkan perhatian sales apartemen. Begitu anda di ruangan sendiri, mulailah bekerja. Jika tertangkap basah, bilang saja, saya sedang mencoba kelenturan pegas ranjang itu.

Tambahan lain, saya tidak sarankan anda mencobanya di kasur tingkat. Jadi untuk adik saya yang tidur di ranjang susun, lupakan ide itu. Ingat, misi ini memerlukan ruangan vertical yang luas. Jangan sampai anda terjeduk tembok maupun ranjang lain…

Ok…selamat mencoba… (saya juga belum mencobanya. Ada kesempatan satu minggu bagi saya dan anda - yang tertarik)

Iseng – iseng berhadiah : sebuah misi

Ok, ini memang judul blog saya. Tidak bermaksud berdakwah panjang lebar tentang arti ungkapan tadi, namun justru memperluas maknanya. Saya mengundang anda untuk menjalankan sebuah misi. Iseng – iseng berhadiah.

MissionSebuah misi yang dijalankan secara sukarela, anda punya kekuasaan penuh. Namanya juga iseng, tak ada peraturan mengikat. Lalu tentang hadiah, harus saya tekankan di sini kalau saya tak akan membagikan hadiah apa – apa. Hadiah disini adalah pengalaman baru. Itu saja, kalau ada “hadiah” tambahan, anda yang harus memberitahu saya. Akankah ada nilai tambah yang didapatkan saat menjalankan misi ini?

Baiklah kita mulai. Sebenarnya sederhana saja. Saya sedang menjalankan kehidupan yang membosankan dan tampak monoton, hingga saya memikirkan beberapa aktivitas sederhana yang tak pernah lagi saya lakukan. Hal kecil yang tampaknya tenggelam dalam rutinitas manusia dewasa. Lalu terpikirkanlah sebuah ide.

Gini, di setiap minggu, saya akan usulkan sebuah aktivitas yang sudah jarang dilakukan. Boleh dicoba, boleh tidak, terserah. Sekali lagi, namanya juga iseng – iseng berhadiah. Satu minggu adalah kesempatan untuk mencobanya untuk kemudian di minggu berikutnya, akan dilemparkan lagi misi berikutnya.

Peserta pertama (dan mungkin yang utama) dalam misi ini adalah satu. Vennie Melyani. Yup, si penulis mimpi sendiri. Saya hanya ingin berbagi, siapa tahu ada yang tertarik menerimanya. Selamat berjuang.

Pembelaan

Katanya,

Jangan janji, kalau tak bisa ditepati.

Jangan pernah berencana, kalau ga mau kecewa.

Jangan catat di agenda, kalau masih tak pasti

Tapi,Pembelaan

Kalau tidak dicoba, yang ada nol besar

Kalau berencana, setidaknya kemungkinan 50%

Kalau tidak dicatat, agenda tak ada guna

Kalau tertulis, setidaknya ada kesempatan

Buatku,

Yang penting, tahu resikonya,

Yang penting, belajar menerima konsekwensinya

Yang penting, bisa mengatur rasa kecewa

Gini deh,

Kalau ini bisa menyimpulkan senyum,

Bisa melumerkan kekakuan rutinitas,

Bisa mendatangkan kebahagiaan,

Aku ambil resikonya.

Gimana?

Bangkit

Kalau mau lari, harus belajar jalan dulu.

Mau jalan? Mulailah dengan merangkak.

Sebelum merangkak, ada baiknya kamu tau bagaimana caranya tengkurep.

Bangkit_1Lalu,

Kalau kamu jatuh?

Kalau kamu terluka?

Kalau kamu sakit, menangis dan merasa tak bisa?

Kamu harus bangkit

Dan mencoba lagi.

Kenapa?

Karena banyak orang yang peduli sama kamu,

Yang percaya dengan kemampuan kamu,

Yang tahu kalau kamu bisa lebih baik dari sekarang,

Yang mengenal siapa kamu sesungguhnya,

Yang menunggu kamu.

Karenanya,

Kamu harus bangkit.

“Tulisan ini terinsipirasi oleh adik saya, yang sedang dihantui kegagalan. Ditulis bagi orang – orang yang memerlukan harapan.”

Andai pacarku Superman…

SupermanHi, saya Louis Lane. Sebagian kalian mengenal saya sebagai jurnalis pemenang Pulitzer Award atas tulisan “A world without Superman”, sebagian lain mengenal saya sebagai kekasih Superman. Ironis memang. Puncak karir didapat saat saya mendoktrin dunia bahwa mereka tidak memerlukan superhero. Puncak karir yang membuahkan anti klimaks terhadap karir pasangan saya sendiri.

Jika kalian menonton “Superman Return” (Yah, ini satu resiko pendamping jagoan. Bahkan kisah hidupmu jadi rebutan. Persoalan cinta jadi komoditas ekonomi pesat) ada banyak perkembangan terjadi setelahnya.

Sekarang saya tahu semuanya, identitas sesungguhnya. Bagaimana Clark Kent, partner lugu itu adalah sosok lain dari Superman. Saya merasa bodoh sekali, dibodohi tepatnya. Bagaimana mungkin saya tidak menyadari kalau Clark dan Superman adalah orang yang sama? Bagaimana mungkin saya terkecoh? Begitu mudahnya kostum ketat merah biru itu bersembunyi di balik kacamata minus tebal.

Meski demikan, hidup jalan terus. Kami berbaikan, pertunangan saya batal. Saya kembali bersama Clark dan kami berdua masih bekerja di Daily Planet.

Lalu setelah ini apa? Ini telah menjadi pertanyaan orang banyak. Kalian sudah saling suka, sudah saling tahu kami mencintai. Lalu kapan menikah? Lucu. Seorang superhero sekalipun, tak luput dari pertanyaan seperti itu.

Tak pernah saya bayangkan bisa berpasangan dengan manusia super, apalagi menjadi istrinya. Saya manusia biasa, tak punya kekuatan lebih. Hanya seorang yang hidup untuk menulis. Apa saya merasa beruntung dicintai Superman? I’m just the right woman at the right time…

Masalah pernikahan sempat menjadi pembicaran kami. Haruskah hubungan ini dilegalkan? Kadang saya bertanya, apa yang Clark Kent cari dari saya? Untuk apa manusia biasa mendampinginya? Apalagi yang Clark butuhkan? Dia punya segalanya. Saya tak punya sesuatu yang bisa ditawarkan. Kecuali mungkin….perasaan.

Menikah atau tidak, bagi saya sama saja. Saya tak akan bisa memilikinya. Apakah setelah menjadi istri, saya jadi punya otoritas lebih atas Superman? Tentu saja tidak. Yang ada justru sebaliknya. Begitu janji setia diucapkan, saya menikahi Superman dan seisi dunia yang bergantung padanya. Saya janji untuk setia berbagi. Fiuh, andai saja saya memenangkan Pulitzer Award atas artikel ‘Even Superman needs a holiday.”

Superman paling lemah terhadap kryptonit. Apa saya harus menyimpan kryptonit untuk bisa memiliki waktunya? (“Ok Superman, I got kryptonite on my hand. You are weak now. You can’t help anybody. So you can ignore those calling for help and finally you are mine.”) Tapi kryptonit juga bisa membunuhnya. Jadi lebih baik dibuang jauh – jauh imajinasi itu.

.

Clarkkent_loislane_weddingSepertinya lebih mudah untuk saya tidak memilih Superman. Hidup lebih tenang saat saya berdampingan dengan manusia normal dan bukan superhero.

Apakah saya dan Clark akan menikah? Tunggu film kami berikutnya. Ide cerita telah terjual jutaan dollar. Saya tak bisa membocorkannya di sini. Ada pinalti dan denda yang menunggu. Jadi, tunggu saja tanggal mainnya.

Love,

Louis

Tertawa

TertawaWarkop DKI sering berpesan “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Kenyataannya, larangan itu tak pernah ada, namun orang jaman sekarang sudah jarang tertawa. Sepertinya mereka lupa bagaimana untuk tertawa.

Ini sekedar pemikiran. Sadarkah kita, semakin dewasa dan bertambah umur, kita jadi minim tertawa? Padahal alkitab menulis, hati yang gembira adalah obat. Pantas saja semakin tua, semakin banyak penyakit yang hinggap. Masalahnya satu, orang dewasa sulit dipuaskan.

Dulu saat kanak – kanak, adegan orang terpeleset mampu membuat kita tertawa terbahak – bahak. Kejadian badut terkena lemparan kue tart di wajah bisa buat kita tertawa terkencing – kencing. Sekarang? Kita memandang rendah lelucon slap stick itu. Itu komedi kelas rendah, tak berkelas. Pola pikir dewasa telah membuat kita menimbang – nimbang untuk tertawa. Berpikir, apakah hal tersebut layak mendapat pujian tawa dan digelari komedi berkelas? Hmm…untuk tertawa saja kok mikir…

Bagaimana dengan saya?

Saat stres dan cape, saya gampang tertawa. Yah sekedar tawa basa – basi. Liat Tukul nyengir saya sorak sorai puas banget. Padahal kalo lagi sadar, saya mikir, “nih orang apan sih, norak banget!!!” Satu kali nonton Extravaganza saya tertawa – tawa. Kali kedua, bertanya – tanya “Jayus banget sih nih acara…kok dulu saya bisa suka sih?”

Tertawa lepas, tawa yang mampu memacu adrenalin sukacita jarang dialami orang dewasa. Tertawa ngakak telah dikotakkan sebagai sesuatu yang ‘aneh’ bahkan tak sopan. Hingga saat rangsangan muncul, logika siap menghadang. “Udah, tawa – tawa kecil aja, ga lucu – lucu banget kok. Norak banget sih kayak gitu aja tertawa.” Akhirnya kita cenderung menahan naluri tawa kita.

Untuk buat saya tertawa lepas perlu perjuangan panjang. Harus bisa menyajikan humor cerdas yang menandingi logika. Komedi yang keluar dari segala prediksi dan perkiraan otak. Sesuatu yang orisinal dan tidak dibuat – buat.

Sudah lama saya tidak tertawa lepas, tertawa yang timbul bukan karena rangsangan fisik tapi karena kata – kata dan pikiran. (Cmon..kalo dikelitikin, meski saya orangnya ga geli – geli amet, pasti ketawalah. Tapi karena keterpaksaan fisik, reaksi yang tak bisa terelakkan)

Untuk tertawa lepas, dibutuhkan lebih dari sekedar badut. Kamu harus bertemu badut yang paling jenius. Bukankah orang yang bisa membuat orang lain tertawa adalah orang yang cerdas. Orang itu pastinya tahu dan mengenal ‘korban’nya hingga mampu menggoda dan mengatur gelak tawanya. Jika sudah demikian, kamu seperti dalam kendaliya, bisa tertawa puas bahkan setelah humor itu berlalu. Kamu hanya bisa mikir “gila..itu lucu banget…” dan tertawa – tawa sendiri. Hihihi kamu benar – benar telah tersihir. Cobain deh….

Thank you for making me laugh…

Awas perempuan galak!!! (updated)

Menstruation_2Harusnya peringatan ini ditaruh di dahi saya, seharian saya uring – uringan. Bawaannya marah mulu. Perkataan yang terucap dengan intensi biasa, malah terdengar nyolot dan bikin kesal orang lain. Saya ikutan naik darah dan sepanjang hari jadi menyebalkan. Setelah saya lihat di kalender, terjawablah sudah, ini tanggal merah saya. Pantas saja hormon meraja - rela.

Entah apa yang dirasakan perempuan lain, buat saya, menstruasi adalah siklus menyebalkan yang terus dialami setidaknya satu bulan satu kali. Parahnya saya berasa subur banget, rasanya baru kemaren saya mengalami minggu penuh gangguan, eh hari ini tamu yang tak pernah diundang itu datang lagi. Dasar nasib!

Kalau sedang dapet, jelas jadi gelisah. Hari yang berat, ditambah lagi dengan beban psikologis. Emosi naik turun, tiba – tiba mellow, tiba - tiba marah. Udara yang sudah panas, terasa lebih panas. Angka satu di petunjuk AC mobil, tak cukup lagi mendinginkan, harus ditambah kekuatannya.

Rutinitas pun berubah. Sebelum haid, nafsu makan bertambah, semua dilahap. Makanan tak lagi dirasa, yang penting masuk mulut. Saat datang bulan, lain lagi, gairah hilang sama sekali. Pagi, siang, malam, tak lagi ditandai dengan proses makan. Tak selera, hingga harus dipaksa. Hormon memang hebat. Kurang lebih satu minggu saya berubah dan cuman bisa berujar “maklum yah lagi dapet.”

Paling mengesalkan kalau sudah berhubungan dengan ‘nembus’, saya termasuk orang yang selebor, cuek dengan diri sendiri. Tapi untuk kali ini saya harus duduk manis, sering ke kamar mandi, menjaga badan (ga seradak – seruduk semaunya), pokoknya perempuan banget. Ketomboy-an saya terpaksa mengalah saat siklus ini datang. Saya akhirnya harus mengakui kalau saya perempuan.

Perempuan dilindungi

Menstruasi, ini proses biologis yang hanya dialami perempuan. Laki – laki, seberapa kerasnya usaha mereka, tak kan pernah merasakan apa yang dialami kaum hawa ini.

Kadang saat mengeluh kesakitan, teman saya, laki – laki, bertanya “sakit yah?” saya jawab saja, “iya sakit banget, rasanya pengen tiduran aja, ga bisa bergerak banyak. Perutnya keram, melilit terus menerus sepanjang hari. Pokoknya sakit deh.”

Perkataan saya segera dipercaya, mungkin teman saya bersyukur tidak harus mengalami ‘beban’ haid. Tak lama setelahnya semua permintaan saya langsung dipenuhi. Makan es krim di mall, makan di luar rumah, nonton film aneh sekalipun, semua boleh, setidaknya untuk meringankan ‘penderitaan’ saya. Hihi ternyata ada enaknya juga. Ini rahasia, ternyata kondisi ‘dapet’ bisa digunakan untuk bermanja ria, terutama kalo kamu punya seseorang yang mau menemanimu.

Bukan hanya itu, UU ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 Bab X soal perlindungan, pengupahan, dan kesejahteraan, Pasal 81 mencatat :

Pekerja wanita yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.

Perempuan memang dilindungi bahkan oleh undang - undang. Banyak yang tak tahu, namun saat tubuh didera sakit karena datang haid, perempuan berhak cuti haid 2 hari tanpa menimbulkan sirik atau tindakan diskriminatif dari pihak lain. Rasa sakit itu nyata dan tak mengada – ngada, maka dari itu perempuan mendapat perlakuan beda. Tuhan memang maha adil, di balik tanggungan berlebih yang dialami, saya juga merasakan banyak perlakuan istimewa karenanya.

Dapet, palang merah, roti jepang, halangan, tanggal merah. Satu minggu penderitaan, 25 – 28 hari penuh kebebasan sebelum akhirnya siklus itu muncul lagi. Fiuh…lengkaplah sudah jadi perempuan.

Temenin

TemeninBahasa gaul Indonesia telah memberi sumbangsih akhiran baru –in, padahal dalam bahasa baku, tak pernah tercatat kata kerja “temenin”, yang ada adalah “menemani”. Tesaurus Bahasa Indonesia menjelaskan, menemani sama juga dengan mendampingi, mengiringi, menyampingi, menyandingi, menyertai, mengantar. Jika saya terjemahkan bebas, temenin berarti pergi atau berada bersama seorang teman.

Ini bisa apa aja, temenin ke pernikahan, temenin ke pesta ulang tahun, temenin ke kuburan almarhum keluarga, temenin nonton, temenin makan, dan sebagainya.

Kala menemani, jelas, kamu pergi karena temanmu itu. Tak ada niatan kamu pergi kalau bukan karena dia. Kamu tak tahu, bahkan tak mengerti dengan kegiatan yang diajak. Bisa jadi yang menikah tak kamu kenal, yang ulang tahun bukan keluargamu, yang didoain tak jelas siapa, yang ditonton bukan film favoritmu, dan makanan yang disantap tidak kamu suka.

Tapi semua kegiatan itu tetap dilaksanakan, karena kamu setuju dari awal, untuk temenin temanmu itu. Kamu tahu, kamu tak akan melakukan kegiatan ini kalau tak ada dia.

Jadi jika ditanya, “gimana, apakah kamu senang?” saya akan berbalik tanya, “apakah KAMU senang?” kalau iya, saya juga. Dan saya akan menemanimu menikmati masa – masa itu.

Aktivitas di saat saya menemani, mungkin tidak penting karena ketidakmengertian tadi. Di manapun itu, sama saja pergi ke tempat asing dan menjelajah tempat baru. Tak kenal, tak tahu, tak jelas, tak suka. Namun istilah ‘penting – tak penting’ adalah ukuran yang relatif. Meski asing, semua sangatlah bernilai karena adanya proses menemani tadi.

Karena tahu peristiwa ini penting bagi teman itu, kamu jadi ikut tertular. Jadi ikut sibuk memilih baju terbaik, pusing cari kado, khusyuk mendoakan, belajar mengerti film. Padahal semuanya asing.

Temenin temanmu. Saya ada, bersama teman saya, dan semuanya jadi bermakna. Bukankah dari awal tujuannya hanya satu, temenin kamu?

Bapak rumah tangga (updated)

HousehusbandAwalnya saya berusaha memperjuangkan hak kaum saya untuk bisa memilih. Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya atau bekerja, harusnya itu jadi pilihan terbuka, bukan keharusan. Kemudian konsep bergulir kepada istilah bapak rumah tangga. Jika laki – laki memutuskan untuk jadi bapak rumah tangga sepenuh waktu, apakah saya bisa menerimanya?

Jawab saya saat itu diplomatis (di pikiran saya, bapak rumah tangga berarti laki - laki lebih banyak berada di rumah) "Ok...Saya ga keberatan kalo laki – laki kerja di rumah, atau misalnya suami saya seniman yang tak punya gaji bulanan, buat saya tak ada yang salah. Saya bisa bekerja memenuhi kebutuhan rumah, dan di saat suami tidak berkarya, dia mengurus rumah tangga. Tak ada masalah." jawab saya, tersenyum, karena merasa telah menjawab dengan baik.

Teman saya menimpali “Bukan ven, kalau begitu suami masih menghasilkan, meski tidak rutin. Bagaimana jika suami memutuskan untuk jadi bapak rumah tangga sepenuh waktu, tidak bekerja, tidak menghasilkan, di rumah saja mengurus rumah. Istri yang bekerja. Bagaimana?”

“Kalau gitu suami saya malas donk” jawab saya penuh ambigu dan secara tidak langsung terjebak mengingkari ideologi yang dibangun sendiri. Secara mengejutkan, ternyata saya tak bisa menerima kondisi laki - laki yang memilih jadi bapak rumah tangga. Saya telah bersikap diskriminatif, memberi label 'kelamin' pada pekerjaan rumah tangga. Bahwa yang ada adalah ibu rumah tangga, dan bukan bapak rumah tangga.

Saya kalah dan diam saja.  Pembahasan berlanjut, perempuan jadi ibu rumah tangga, karena laki – laki tidak bisa melakukannya, sedangkan rumah harus diurus. Pilihan memang tetap terbuka bahkan lebih longgar untuk perempuan. Bekerja tak apa, tak bekerja pun tak masalah. Jika semua kebutuhan financial bisa ditutupi oleh suami, haruskah perempuan bekerja? Apalagi kalau sudah punya anak. Suami tidak bisa sepenuhnya menemani dan ia membutuhkan istri yang bisa menemani.

“Tapi, bekerja kan tidak melulu bicara soal uang, tapi kepuasan batin.” Saya tetap berusaha membela. “Iya, boleh aja bekerja, tapi saat berkeluarga, tidak melulu bicara kepuasan batin pribadi kan, tapi juga kepuasan batin keluarga. Bukankah itu inti dari pernikahan? Kamu berbagi…”

Saya sebal.

Beli kado

Cari kado itu gampang - gampang susah. Gampang kalo memilih ala kadarnya, hanya tak ingin datang tangan kosong saat beri ucapan selamat.

KadoKalau perempuan, kasih saja boneka, teddy bear, warna pink. Ukuran sesuai budget, semakin besar, pikirnya orang semakin senang. Padahal buat saya, boneka besar makan tempat, tak tau taruh dimana. Boneka besar juga kadang tidak empuk, tidak bisa dipeluk – peluk. Lagipula, siapa sih yang bilang perempuan pasti suka boneka? Memberi boneka seperti jalan pintas, tidak berkesan, biasa saja.

Kalau laki – laki, gampangnya, tak usah kasih kado. Sebarkan prinsip, laki – laki tak layak dapat kado, itu cuman urusan perempuan. Atau lebih baik lagi, laki – laki “harusnya” tidak merayakan ulang tahun, biar hari – hari berlalu begitu saja. Prinsip ini terbukti efektif. Teman saya, laki – laki, mengaku tak pernah merayakan ulang tahun, tak pernah meminta diselamati, apalagi kado. Namun, dia juga tak memungkiri, kalo ada kado khusus yang diberikan pas hari jadinya, pasti dia senang sekali.

Lain lagi kalo anak – anak, belikan saja mainan. Apapun itu, dia pasti suka. Tapi tentu, saya jarang menghadiahkan mainan tuk anak – anak, adik saya sekalipun. Kesannya tidak mendidik. Saya lebih suka kasih pakaian, atau buku bacaan. Jika sampai mainan itu terbeli, pasti saya sudah terbujuk habis. Adik saya perlu bertahun – tahun mengajak saya ke toko mainan. Menemani dia melihat mainan tertentu, memegang – megang, berharap – harap cemas, sampai kata – kata itu keluar “yah udah, ambil sana, cece beliin…”

Cari kado susah kalo kamu niat melakukannya. Ingin memberikan yang terbaik di hari yang istimewa. Kalo begini, saya berusaha mengenali mereka yang ulang tahun. Apa kesukaannya, apa yang dia inginkan, apa yang dia butuh. Penyelidikan bisa berlangsung lama. Pelan – pelan saya perhatikan dengan detil, setiap cerita, perkataan dan gerak – geriknya. Semua dilakukan secara personal. Yang dipikirkan juga bukan hanya isi kado, tapi juga pembungkusnya, kartu ucapannya, dan kapan menyerahkannya.

Susahnya cari kado akan terbayar saat kado diserahkan dan dibuka. Melihat reaksinya, senyuman di wajahnya, bahkan ucapan dibibirnya. “Ah gila…thank you banget yah…” Harapnya sih, biar si penerima mengerti benar saya niat cari kado untuknya. Kalaupun biasa saja, bisa jadi penyelidikannya belum berhasil, atau salah kira. Kalau begitu, ingat saja, ulang tahun akan terus berulang di setiap tahun, jadi jika belum kapok, kamu bisa mencobanya tahun depan.

Jadi, silakan pilih, mau pilih kado cara gampang atau susah….

Kotak Pandora

Ceritanya begini,

Seorang nelayan menolong penyu besar dari siksaan anak - anak. Penyu itu terdampar dan langsung jadi mainan manusia. Nelayan pun tak tega, ia lepaskan penyu kembali ke alamnya. Sebagai terima kasih, penyu mengundang nelayan jadi tamu kerajaan bawah laut. Nelayan dijemput dan jadi tamu kehormatan. Aneh memang, menunggangi penyu, nelayan masuk ke dasar laut dan bisa bernafas dalam air. Hari – hari berikutnya penuh dengan pesta pora dan kenikmatan.

Waktu berlalu, nelayan teringat keluarga di darat dan mohon ijin kembali menginjak tanah. Penyu pun tak kuasa menahannya. Sebagai buat tangan, dihadiahkan nelayan perhiasan emas berlian begitu rupa. Tak lupa diserahkan satu kotak, kotak Pandora, dan sebuah pesan. “Jangan pernah kau buka kotak ini.”

Sekembalinya di darat, semua sudah berubah. Hari – hari di laut, tak ubahnya puluhan tahun di darat. Tak ada yang tersisa, rumah, keluarga dan harta, semuanya tiada. Nelayan menghampiri anak – anak sekitar dan bertanya tentang keluarganya. “Dulu kakekku pernah bercerita, ada nelayan yang menolong penyu, kemudian hilang masuk ke laut. Ia tak pernah muncul lagi.” Begitu jawabnya.

Di tengah kebingungan dan kecewa, nelayan mengambil kotak Pandora. Pesan penyu laut tak lagi diindahkan. Kala kotak terlarang terbuka, wujud nelayan pun berubah,dari nelayan perkasa menjadi kakek tua renta. Waktu yang hilang saat nelayan dulu di bawah laut kembali berputar. Bukankah sudah diberitahu untuk tidak membuka kotak Pandora? Sekarang nelayan sudah lanjut usia, harta kekayaan pun tak ada guna karena hidup tinggal sesaat.

----------------------------------------

Kotak_pandoraDongeng ini memang bukan barang baru, saya membacanya dari buku cerita bergambar milik adik perempuan saya. Ceritanya sederhana, tapi mengundang banyak tanya. Apa maksud kotak Pandora itu? Kalau memang kotak itu tak boleh dibuka, kenapa harus diserahkan? Saya jadi berburuk sangka terhadap penyu laut. Bermaksud berterima kasih, tapi kok malah merebut kehidupan si nelayan? Lagi – lagi apa maksudnya kotak Pandora?

Di versi kisah nyata, saya juga menghadapi kotak Pandora milik saya. Tak sengaja kotak Pandora itu didapatkan. Padahal sebelumnya pernah dibahas dan nyata – nyata saya bilang, saya tak mau memilikinya. Alasannya sederhana, jika kotak itu di tangan, tak mungkin tak saya buka. Penasaran adalah sifat alamiah saya, bahkan modal jadi penulis. Namun telinga tak bisa memilih, suara yang terdengar diserap begitu saja. Hasilnya, kotak Pandora di depan mata.

Saya bisa berbohong dan bilang saya tak akan membukanya. Kamu juga bisa berharap, suatu saat nanti saya lupa telah memiliki kotak Pandora itu. Waktunya pasti lama sekali dan saya tak yakin tidak membukanya sebelum saya lupa. Atau begini, biar lebih mudah lagi, sudah, biar saja kotak ini kembali ke tanganmu.

Untuk tidak membukanya, merupakan sebuah penderitaan luar biasa. Kalau pun saya lakukan, semua karena kamu.

--------------------

Pandora box:

·        A source of many unforeseen troubles

·        In classical mythology, a box that Zeus gave to Pandora, the first woman, with strict instructions that she not open it. Pandora's curiosity soon got the better of her, and she opened the box. All the evils and miseries of the world flew out to afflict mankind.

  • To “open a Pandora's box” is to create an uncontrollable situation that will cause great grief

Dipangku

PangkuWaktu kukecil hidupku, amatlah senang,

senang dipangku – dipangku disayangnya,

serta dicium - dicium dimanjanya,

namanya kesayangan….

Inget lagu jaman kecil dulu? Apa anda pernah mengalaminya? Saya pernah, secara saya sempat jadi anak bontot selama 6 tahun sebelum adik saya lahir. Dan kata orang, waktu kecil saya cantik sekali, mata bulat besar, rambut coklat seperti bule, kulit putih, pipi tembem (yang tak berubah sampe sekarang). Semua orang pasti memuji “waduh…anaknya cantik sekali…..” dicium, dipangku, digendong dari satu tangan ke tangan lainnya, itu sudah biasa.

Tapi semua tak berlangsung lama. Tubuh saya yang bongsor membuat saya tak lagi sering dipangku, tapi lebih banyak memangku. Proses pangku-memangku kemudian dikorelasikan dengan besar dan kecil. Yang besar memangku yang kecil, tak pandang usia.

Sering terjadi saat keluarga berpergian, mobil seadanya disusupi beban berlebih. Strategi pangku memangku digunakan untuk memindahkan beban horizontal jadi beban vertikal. Semua agar banyak orang yang bisa ikut. Saya selalu kebagian memangku.

Posisi memangku membuat saya, sedikit berkuasa, berasa lebih kuat, lebih tua, lebih dipercaya. Sebaliknya, posisi dipangku membuat orang berasa kecil, berasa dimanja, persis di lagu anak anak dulu.

Saya dipangku? Rasanya sudah lama sekali, struktur tulang tak mungkin berubah, membuat saya jadi mungil tuk layak dipangku. Kalaupun iya, pasti jarang sekali, dan itu membuat semuanya jadi istimewa. (kalo sering pasti tak lagi jadi istimewa, bahkan tak jarang berubah jadi beban)

Memangku dan dipangku, saya tak tahu mana yang lebih menyenangkan… 

Dear….

Sleep

Pernah mimpi indah?

Mimpi yang sama saat putri salju dan putri tidur terlelap.

Kala mata terbuka, orang paling istimewa jadi sosok yang muncul

Dan jika impian itu jadi kenyataan,

Saya yakin, kamu akan gelisah tiap malam tiba.

Dan bertanya…

Akankah bunga tidur kembali berlabuh?

Akankah impian kembali jadi kenyataan?

Hari ini aku bermimpi….

Menggantungkan angan di awan dan bulan

Harapan keyakinan jadi kekuatan magis

Semoga mimpi bertandang lagi…

A little princess…

My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31