Jodoh di Pekerjaan
Masa paling menyenangkan memang saat sekolah. Rata rata dari kita “dibayar” (oleh orang tua) untuk belajar. Lulus sekolah barulah mata terbuka. “Welcome to the real world Darling” atau lebih nyata lagi, “welcome to the jungle pal…” Kelar sekolah, bukan hanya gelar sarjana yang disanding, tapi juga gelar pengangguran. Tunjangan tak lagi deras mengalir, saatnya cari uang.
Sejak itu, tanpa sadar kolom lowongan jadi bacaan menarik. Edaran Kompas sabtu, yang menampilkan ratusan pekerjaan jadi rebutan. Banyak yang melamar, sedikit yang dipilih. Pengalaman jadi pengangguran buat saya berpikir, kok melamar pekerjaan serasa cari jodoh yah?
Kadang dia suka, saya tak suka. Kemaren ini saya ditelpon, mengaku majalah Investor. Saya diminta datang tuk wawancara. Langsung saya pontang - panting. Investor itu majalah apaan yah? Belum tuntas penyelidikan, saya ditelpon lagi. Orang itu bilang saya kandidat kuat, mereka suka saya, tapi bukan tuk jadi jurnalis, melainkan sekretaris direktur. Dengan manis saya tolak. “Mba, percaya deh, saya tak bisa duduk manis. Maaf yah”
Bisa juga kejadian, saya suka, dia tak suka. Seperti saat saya dilamar BBC (bukan tempat kursus les inggris, tapi institusi media jebolan inggris itu loh). Saya menerima panggilan sambil sumeringah. Gilleeee….BBC bo, posisi produser pula, sesuai latar belakang saya. Masuk kantor BBC serasa tak percaya. Seperti di film – film. Saya berasa jadi Michelle Pfeiffer di Up Close and Personal. Yang menguji langsung country director. Hampir 30 menit kita ngobrol panjang, sampai satu titik saya kaget. “Oh ini BBC radio yah, saya kira BBC TV“ hihihi saya ditolak, salah alamat.
Sering juga ketemu kondisi dimana kita sama – sama suka, tapi waktunya tidak tepat. Entah berapa proyek saya lepas karena urusan waktu. Saya keburu terikat institusi lain. Lagian herannya di Indonesia, setiap lamaran kerja tidak ditanggapi secara cepat. Saya bisa ditelpon 3 bahkan 6 bulan setelah mengirim. Gimana donk, situ kalah cepat. Meskipun kita sama – sama suka, saya bilang saja. “Maaf yah, sepertinya kita belum jodoh.”
Hampir sama dengan waktu, kali ini tentang keadaan. Saya suka, dia suka, tapi keadaan tak memungkinkan, hingga kami harus putus di tengah jalan. Ini biasanya soal gaji. Tak ada kesepakatan antar keduanya, hingga “talak” jadi urusan.
Yang parah, ada juga yang brengsek. Tak hanya bilang tak suka, tapi juga menghancurkan. Pake alasan fisik, agama maupun ras. Sampai – sampai kepercayaan diri hilang. Sampai sampai kita berpikir ada yang salah sama kita. Padahal ini cuman masalah cocok tak cocok aja kok.
Untuk dapat yang serba pas, sama – sama suka, dengan waktu dan kondisi yang tepat, itu sama sulitnya dengan cari jodoh. Susah, tapi tidak berarti mustahil. Kamu harus terus percaya, kalo kamu layak mendapatkan yang terbaik.
Kesempatan saya datang melalui seorang teman. Yah, kami dijodohkan. Pekerjaan yang baik, yang saya sukai dan juga menyukai saya. Yang punya waktu dan kondisi yang tepat.
Saya merasa beruntung dan bersyukur punya teman bisa menjodohkan saya. Tapi teman saya balik mengungkapkan kalau semua itu kembali ke saya. Saya yang sukses menggali potensi, sukses mempersiapkan diri. Giliran waktuya datang, saya tinggal dipersunting. Ia hanya media menjodohkan. Kuncinya ada pada saya.
Benar juga. Jadi pengangguran mungkin serasa jomlo, makan penolakan sehari – hari. Tapi bukan berarti putus harapan. Nenek bilang “kalo jodoh ga lari kemana.” Makanya jangan menyerah, persiapkan diri, tingkatkan potensi. Yakinlah, masih ada kok yang mau sama kamu. Percaya deh…
7:46 PM
“sendiri di kafetaria, sampe diganggu cowok ganteng ‘hai cewek…sendirian?’ =P”
















Recent Comments