« July 2007 | Main | October 2007 »

Pertarungan Sengit

“teng teng teng”

Gong mulai dipukul, tanda pertarungan akan segera dimulai. Dua kubu besar telah bersiap.

Traditional vs modern,

Tukang urut vs dokter,

Mama vs saya.

…..

SickMama terpeleset, tangannya bengkak. Saya tahu belakangan, saat mama sudah diurut dua kali. Saat tangan berubah jadi sarung tinju dan bengkak besar. Meski tiap hari dibalut obat arak dan dikompres air panas, tangan malah membiru dan tak ada tanda membaik. Dari awal saya sudah bilang, mama harus dirongten untuk memastikan ada retak atau patah. Tapi tidak digubris, tetap tukang urut dan arak jadi andalan.

Belum selesai sampai di situ, tiap hari mama mengeluh sakit & menanyakan banyak hal ke saya,

“kenapa kok tangan mama jadi biru yah?”

“udah dikompres kok bengkaknya ga kempes?”

“masih bisa digerakin berarti ga patah kan?”

Saya berusaha menjawab sesuai kapasitas saya, tapi saran saya tidak juga ditanggapi. Saya ajak ke dokter, tidak mau, besok saja katanya. Saya harus sabar.

Sampai saya ajak teman saya untuk minta konsultasi, pencet sedikit sana sini, kesimpulannya tetap sama, harus dirongten untuk pemeriksaan lebih lanjut dan mama langsung setuju “besok kita rongten yah” Huuuhhhh dibilangin sama anaknya ga nurut, giliran ketemu dokter sebentar langsung aja nurut. Saya memang harus bersabar.

Giliran mau ke dokter, kami masih berdebat tuk menentukan rumah sakit yang tepat. Mama ga mau mengeluarkan uang banyak untuk hal yang dia anggap tidak penting. Saya sampai putar otak mencari rumah sakit kecil tuk mendapatkan tarif yang sesuai, namun tetap saja, hanya untuk rongten, ratusan ribu harus keluar.

Hasil rongten menyatakan “partial fraktur tanpa dislokasi” atau patah tulang, mama harus konsul ke dokter ortopedi untuk penyembuhan. Saya pikir kali ini pasti mama nurut, tapi dugaan saya meleset, mama malah minta diantar ke tukang patah tulang. Menurutnya yang menyebabkan dia tak kunjung sembuh adalah salah sasaran. Tadinya indikasi awal hanya keseleo, makanya tukang urut jadi pilihan. Jika dari awal dia tau patah tulang, pastilah dia langsung ke ahli patah tulang. Huuuhhh saya benar – benar dibuat pusing.

Hand_2Ini seperti berhadapan dengan orang bandel dan keras kepala. Jika bertemu orang seperti ini, cara paling mudah yah cuekin saja. Tetapi sangat sulit menjadi acuh jika orang yang bandel ini adalah orang yang kamu sayangi. Tentu saja kamu tetap peduli meski tidak didengar. Kamu ingin dia sembuh, apapun caranya.

“Jadi mama maunya gimana sih?” Sebagai anak saya ga bisa memaksa, saya hanya jadi supir yang mengantar dan berusaha merayu agar mama mau ke ortopedi.

“ke tukang patah tulang.” mama tetap berkeras hati. Saya tak punya pilihan lain dan menurutinya, sambil berdoa, moga – moga pikirannya berubah.

…….

Setelah tanya sana sini, mama minta diantar ke ahli tulang kenalannya. Ini ahli tulang paling terkenal dari kampong halaman mama, sudah 3 generasi keluarga ini menekuni praktek patah tulang. Nenek, om dan sepupu saya sembuh berkat keajaiban tangannya.

Saya bukannya anti pengobatan traditional, hanya saja ini menyangkut mama, orang yang saya sayangi, saya ingin yang terbaik, bukan sekedar coba – coba. Dokter, tenaga medis modern setidaknya bisa menjelaskan sakit penyakit dan proses penyembuhan lebih jelas. Tapi sekali lagi, saya tak punya banyak pilihan, selain nurut.

…..

Pencarian lokasi ahli tulang ini penuh perjuangan, memasuki lorong dan jalan tikus, belum lagi 4 kali salah alamat. Akhirnya kami sampai juga ke tempat yang dimaksud, rumah mewah di gang sempit dengan puluhan kursi berjejer. Kami beruntung jadi orang pertama yang datang. Tak lama, pasien lain mulai berdatangan, semua dengan keluhan di tulang. Di depan rumah terlihat papan nama ijin praktek bertuliskan ‘dokter Lay’  hmm…jadi dia juga menyebutkan dirinya sebagai dokter?” pikir saya penuh keraguan.

Masuk ke ruang praktik saya langsung terkesima. Si ahli tulang ini sangat muda dan ramah, tidak sesuai dengan bayangan saya. Ternyata praktek penyembuhan tulang telah dilanjutkan ke generasi ke empat. Dan hebatnya lagi, si anak yang menggantikan posisi ayahnya telah mengemban pendidikan medis formal, jadi dia benar – benar layak menyebut dirinya sebagai dokter. Ini perpaduan antara pengobatan modern dan traditional, gabungan antara keinginan mama dan saya.

…….

BandageDokter Lay mulai memeriksa, karena berasal dari satu kampung, bahasa daerahlah yang dipakai, mama jadi semakin nyaman. Saya pun ikut membantu, mengunting perban, menggulung serta membantu menarik posisi tulang yang benar. Sampai – sampai saya dibilang “kayaknya kamu berbakat jadi asisten dokter.” Yah, dokter bukan orang pertama yang berpendapat seperti itu hihihi

Penjelasan lengkap diberikan melalui hasil rongten dan gambar, obat yang diberikan gabungan antara obat modern dan obat cina. Dengan sabar dokter menjawab semua pertanyaan mama, tak peduli banyaknya orang yang mengantri di luar. Ada perlakuan personal di sana, mama benar - benar puas. Belum lagi dokter berpesan “ini nomor handphone saya, kalau ada apa – apa, harap hubungi saya, kapan saja.”

…..

Pengobatan modern atau traditional, mana yang kamu pilih? Pada akhirnya buat saya imanlah yang menyembuhkan. Keyakinan kamu terhadap metode pengobatan tertentu yang akhirnya membuat kamu sembuh. Ke dokter atau ahli tulang, yang penting kamu punya keyakinan kalau kamu bisa sembuh melalui perantara orang ini. Jika saya paksakan mama bertemu ortopedi, mungkin mama tak kunjung sembuh karena ia punya mosi tak percaya. Sekarang karena saya dan mama sepakat dokter lay bisa menjadi saluran menyembuhkan, tentulah mama akan semakin cepat sembuh.

Pertarungan sengit ini berakhir dengan perdamaian. Tak ada yang menang maupun kalah. Kondisi mama semakin membaik dan selesai sudah.

                            

Tempat lahir

CribSetiap melewati daerah menteng, teman saya selalu bertutur. “Wah….ini rumah  sakit tempat gw dilahirkan” Teman saya mengacu pada Rumah Sakit Bersalin Bunda, rumah sakit ibu dan anak yang cukup besar dan terkenal. Adik perempuan saya juga dilahirkan di sana.

Saya jadi penasaran dengan tempat kelahiran saya, jadi saya tanyakan ke mama.

“Ma, aku tuh dilahirinnya di mana yah?”

“Kamu? Hmm…Di Citarum.”

Wahhh…ternyata saya ndeso juga yah…

Pembela kebenaran

SuperwomanSorry this is hard to resist…

A very close friend of mine sent me this text…

Superman jatuh sakit.

Batman sedang ke luar kota.

Spiderman tak bisa dihubungi.

Seorang pembela kebenaran dibutuhkan.

Panggil Vennie Melyani!!!

“Gw pikir…Mungkin eloe perlu gentle reminder that at the very core, eloe itu seorang pembela kebenaran :)”

Hihihi...i'm totally flattered...Thank you so much bro....

Wawancara

AgnesAgnes Monica, artis muda serba bisa itu muncul, masuk dalam ruangan…

Puluhan wartawan infotainment siap menghadang…

“Kapan ke Amerika?”

“Kapan berkarir di luar negri?

“Ga jadi go internasional yah?

Hmm….Kadangkala…

Saya berasa sama seperti Agnes Monica…

Manusia produktif, menurut siapa?

Work_1“Hari ini kemana?”

Sapaan ini menggantikan ucapan “Selamat pagi..” atau “Bagaimana tidurnya semalam?” yang saya terima setiap hari.

“Hari ini mau ke mana?”

Apapun jawabannya takkan pernah memuaskan, pertanyaan itu terus terkuak lebar, seakan tak mau dijawab.

Belum selesai pertanyaan dijawab, pesan SMS masuk.

From: <+628xxxxxxxxx>;

Subject: <…>

Sent: 26/09/07 6:52:31 AM

Venn…Lagi apa?

Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Mau bilang apa? Saya di rumah. Belajar, berpikir? Sepertinya kegiatan itu tidak lagi masuk hitungan. Jadi saya jawab saja.

To: <+628xxxxxxxxx>;

Subject: <…>

Sent: 26/09/07 7:29:36 AM

Gak ngapa2in, emangnya kenapa?

Tak ada balasan. Seperti yang saya bilang, tak ada jawaban yang cukup memuaskan. Semakin hari topik ini semakin hangat diperbincangkan. Seperti issue nasional. Talkshow dengan bintang tamu yang tak lain dan tak bukan, saya, mulai digelar.

Panelis duduk berjejer, saya menempati kursi panas, berada di tengah – tengah. Talkshow yang biasanya bersifat ringan dan informatif berubah menjadi meja hijau sidang pengadilan.

“Kamu mau ngapain?”

“Rencananya apa sih?”

“Kamu mau gini – gini aja? Quarter life crisis yah?”

Satu persatu panelis mengajukan pertanyaan, atau yang lebih tepatnya pernyataan keras. Ungkapan langsung menghantam dan menghujam tubuh saya. Peluh mulai menetes, belum sempat satu kata terucap, rentetan pertanyaan terus dilempar. Saya benar – benar berada di kursi panas. Sebuah stempel panas bertuliskan “orang paling tidak produktif seluruh dunia” disiapkan khusus tuk saya.

“Kamu tuh lagi di usia produktif, ga mungkin kan cuman diam saja.”

Saya putuskan tuk diam seribu bahasa. Mereka tidak meminta dijawab, hanya didengarkan, berharap saya berpikir dan bertobat. Saya diam dan menatap setiap rawut wajah mereka yang cemas dan tak bisa berdiam diri melihat kehidupan saya sekarang. Tanda khawatirkah? Kepedulian bercampur rasa sayang? Atau perasaan gusar karena saya tidak sama dengan mereka? Saya berbeda?

Saya tidak bekerja “ 9 to 5” tidak berpakaian rapi, rok selutut, sepatu berhak, tas kepit dan tidak juga berdandan. Saya tidak bergaji bulanan, tidak rusuh menghadapi kemacetan lalu lintas setiap harinya, tidak hidup stress dan pusing menghadapi kerjaan.

Namun saya akui mereka berhasil. Hujaman terasa menembus dalam diri dan cap “orang yang tidak produktif” membuat saya ingin membuktikan ke mereka. Kalau kalian pikir kondisi ini karena saya tidak mempunyai kemampuan, kalian salah besar.

Untuk memuaskan mereka, saya kirimkan segudang surat lamaran ke berbagai instansi. Menjalani setiap proses yang ada mulai dari wawancara, psiko test, tes lapangan dan berbagai macam lainnya. Dengan sabar mengikuti proses yang ada “ini semua untuk kalian, sebuah pembuktian”.

Dan setiap langkah terus saja terhenti. Saya jadi giat mengirimkan lamaran karena kalian, tapi terus menolak tawaran yang diberikan karena diri saya. Saya tidak bisa membohongi diri sendiri. Maaf, tapi bukan ini yang saya inginkan. Bukan bekerja, atau  menjadi orang produktif seperti yang kalian inginkan.

Saya punya rencana, dan mungkin yang berbeda adalah saya tidak lagi membaginya kepada kalian. Ini keputusan yang besar dan perlu keberanian untuk mengungkapkan ini. Anggap saja ini sebuah mimpi dan biarkan saya terus bermimpi, dan saat mimpi itu menjadi kenyataan, akan saya bagikan kenikmatan itu kepada kalian. Sekarang, apakah kalian percaya pada saya?

Sesal dan luka

Apa kalian pernah punya keinginan? Dan setelah keinginan itu terwujud kalian menyesal pernah memintanya?

PainSeperti memiliki borok di tubuh. Borok belum kering, dan tanganmu tak sabar mulai mengelupasnya. Berharap ia segera kering dan hilang dari permukaan kulit. Tapi apa dinanya, yang ada justru rasa sakit dan darah mengalir. Proses penyembuhan jadi lebih lama dan tak jarang akibat keisengan tanganmu, timbul bekas luka di tubuh.

Atau seperti jerawat yang tak sabar ingin kau pencet. Meski kau tau tangan kotor justru akan mengakibatkan infeksi, meski sadar pencetan nikmat hanya akan memperparah semuanya, tetap saja kau melakukannya. Ide awal ingin memusnahkan jerawat di wajah, namun yang ada justru lubang bekas seumur hidup.

Penyesalan memang datang belakangan, dan saat dia datang, kita mulailah berpikir, kenapa kita tidak pernah berpikir sejauh ini? Mengapa kejadian yang membuntuti sejak awal tidak pernah terpikirkan sebelumnya?

Sebuah buku mengatakan “it called broke – up because it’s broken”. Manusia dikubur dalam tanah untuk sebuah alasan pasti, karena tubuhnya sudah membusuk. Tak ada gunanya kau menggali tanah dalam - dalam kalau yang ditemukan hanya tulang belulang dan bau menyengat.

Jika kamu memiliki barang yang rusak, pilihannya ada dua, entah kamu memperbaikinya atau membuangnya. Dan saat kamu memutuskan untuk memperbaikinya, ingatlah, ia tak kan pernah jadi baru lagi.

Seperti kaca yang pecah, sia – sia kamu memperbaikinya kalau yang didapat hanya luka di tangan. Lebih baik segera dibuang dan membeli baru.

Terkadang, selamat tinggal dan perpisahan memang pilihan terbaik.

Misteri Hidup

Jika akhir hidup sudah diketahui sejak awal, apakah semua akan menjadi lebih baik? Jika kita tahu kapan harus mengucapkan kata berpisah, bukankah kita bisa mempersiapkannya lebih baik?

One Litter of Tears, melodrama Jepang yang dijiplak sinetron Indonesia menjadi Buku Harian Nayla, menginspirasikan tulisan ini. Aya divonis berumur pendek akibat penyakit mematikan yang menyerang otak kecilnya. Saat ibu Aya yang mendengar vonis ini, ia memutuskan untuk menyimpannya erat – erat, tidak memberitahu Aya. Ia berpikir, Aya yang saat itu 13 tahun, sedang menjalani hidupnya yang bahagia. Juara kelas, jagoan bola basket, punya banyak teman, Aya selayaknya punya hidup yang penuh harapan, Aya tak harus tahu jika hidupnya tinggal sebentar lagi.

Cerita tidak berakhir sampai di sini, dokter yang merawat Aya punya pemikiran lain. Pertama, Aya, sebagai yang bersangkutan berhak mengetahui perihal hidupnya, kedua, jika Aya tahu berapa banyak waktu yang ia miliki, ia bisa bermain lebih banyak, bernyanyi lebih sering, tertawa lebih lepas dan tak ada penyesalan. Dan akhirnya, saran inilah yang diikuti, Aya diberitahu.

Saya pun berandai – andai, jika saya mengetahui panjang usia, apakah akan lebih baik? Pastinya saya bisa berhitung, berapa kali ulang tahun yang saya miliki, berapa kado natal yang saya bisa terima dan berapa banyak terompet tahun baru yang bisa saya tiup. Saat ulang tahun tidak lagi sekedar tiup lilin dan kemudian tidur, tak cukup sampai di situ, semua harus disyukuri, semua harus jadi istimewa dan melibatkan semua orang yang saya sayang. Setiap kesempatan menjadi tidak biasa karena tahu, semuanya tidak akan terulang lagi.

Hitungan yang dilakukan pun jadi hitungan mundur. Saya tidak lagi menunda mengungkapkan apa yang ada di pikiran, karena saya tak tahu apa ada kesempatan lainnya. Setiap rasa terima kasih, kritik bahkan perasaan cinta diungkapkan tanpa rasa ragu.

Tidak ada rasa bosan, setiap rutinitas yang dilakukan dengan penuh bermakna. Saya tahu ketika kegiatan itu tidak dilakukan, saya akan merindukannya. Bahkan, tidak heran kalau yang terjadi malah mengejar target, memaksimalkan kesempatan. Sebisa mungkin semakin banyak hal positif yang dilakukan, semakin banyak pesan damai yang disampaikan. Semakin getol saya menciptakan kenangan indah.

Death_1Tapi nyatanya tidaklah demikian. Saya hidup, di usia 25 tahun, tanpa tahu kapan kematian akan menjelang.

Kalau sudah begini, tidakkah kita berpikir kita sudah sedikit menyia – siakan hidup yang kita jalani sekarang? Dan menunda merupakan kejahatan terbesar? Seberapa sering kita menunda, lupa, malas atau bahkan menolak melakukan sesuatu?

Tuhan menetapkan hidup mati sebagai misteri, apapun alasannya dan mungkin inilah yang terbaik. Tak ada yang bisa memprediksi akhir hidup. Bahkan vonis dokter tak bedanya ramalan awal tahun, tak ada yang tahu pasti kebenarannya.

Mungkin Tuhan tahu bahwa mengakhiri lebih sulit daripada memulai. Maka dari itu mati tetaplah sebuah misteri.

For Him who never gave up on me….

Hand“Why…why…why…???” I asked

“Because I love you….

And it made everything worth to be done….”

He answered.

Then I asked myself,

“Is it what it called a true love?”

Then there was silence…

Sampah

Dari balik jendela trayek perkotaan

Saya selalu ingin bertanya

TrashPada setiap orang yang membuang benda ke luar jendela

Kamu pikir, siapa yang akan memunggut barang yang baru saja kau buang tadi?

Yang tergeletak begitu saja di tengah jalan?

Atau yang kadang terbang tertiup asap knalpot ngebul

Yang kau pikir sampah hingga tak sabar ingin kau enyahkan dari tanganmu

Yang begitu kotor dan jijiknya hingga harus kau buang?

Siapa yang akan mengambilnya?

Siapa yang akan menaruhkan ke tempat yang layak?

Puasa

Udara panas menembus masuk halte busway. Pas bener, waktu siang bolong dan saya harus berhimpit – himpit cari strategi tuk masuk bus lebih cepat. Sudah dari subuh saya di jalan. Rencana sih naik busway biar lebih cepat dan juga badan lebih wangi karena naik bus AC. Tapi saya lupa soal antri tak beraturan di terminal. Kalo gini sih, sama saja, pas masuk bus, badan sudah bau apek.

Cape, letih, bosan, perjalanan saya masih panjang. Sambil menunggu saya ambil botol air yang memang selalu saya siapkan. Di tengah antrian, saya minum seteguk demi seteguk. Tak lama saya disenggol.

Moslem“Mbak, hormati orang yang sedang berpuasa donk.”

Seorang bapak yang nempel pas di belakang saya berujar. Saya langsung menjawab.

“Bapak, hormati orang yang sedang tidak puasa donk.”

Lalu kami langsung diam dan acuh tak acuh.

Hormat menghormati, apakah ini sebuah ketulusan? Ato soal kekuasaan? Tentang mayoritas dan minoritas? Yang lebih sedikit, menghormati yang lebih banyak? Bukankah konsep yang benar harusnya saling menghormati? Saling berarti saya menghormati anda dan anda juga menghormati saya?

Yah, itulah masyarakat. Untuk semua teman, sahabat, tetangga, handai taulan, dari hati yang tulus, saya ucapkan, selamat menunaikan ibadah puasa.

Setahun…

Satu tahun,Setahun_1

Dua belas bulan,

Lima puluh dua minggu,

Tiga ratus enam puluh lima hari,

Satu kali tahun baru,

Satu kali hari valentine,

Satu kali paskah,

Satu kali ulang tahun,

Satu kali natal,

Waktu yang lama jika ia sebuah permulaan,

Waktu yang singkat jika ia sebuah akhir

Panjang atau pendeknya waktu

Kamu yang menentukan….

Dia

KuraLaki – laki itu seperti kura – kura,

Jika didekati, ia akan malu, bersembunyi dalam tempurung,

Jika dijauhi, justru ia akan keluar dan berjalan mengikuti kita.

(sesuatu yang saya baca beberapa waktu yang lalu. Lupa, entah baca di mana)

Pssstttt!!!

Aku banyak cerita nih…

Siap – siap yah….

=)

My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31