Pertarungan Sengit
“teng teng teng”
Gong mulai dipukul, tanda pertarungan akan segera dimulai. Dua kubu besar telah bersiap.
Traditional vs modern,
Tukang urut vs dokter,
Mama vs saya.
…..
Mama terpeleset, tangannya bengkak. Saya tahu belakangan, saat mama sudah diurut dua kali. Saat tangan berubah jadi sarung tinju dan bengkak besar. Meski tiap hari dibalut obat arak dan dikompres air panas, tangan malah membiru dan tak ada tanda membaik. Dari awal saya sudah bilang, mama harus dirongten untuk memastikan ada retak atau patah. Tapi tidak digubris, tetap tukang urut dan arak jadi andalan.
Belum selesai sampai di situ, tiap hari mama mengeluh sakit & menanyakan banyak hal ke saya,
“kenapa kok tangan mama jadi biru yah?”
“udah dikompres kok bengkaknya ga kempes?”
“masih bisa digerakin berarti ga patah kan?”
Saya berusaha menjawab sesuai kapasitas saya, tapi saran saya tidak juga ditanggapi. Saya ajak ke dokter, tidak mau, besok saja katanya. Saya harus sabar.
Sampai saya ajak teman saya untuk minta konsultasi, pencet sedikit sana sini, kesimpulannya tetap sama, harus dirongten untuk pemeriksaan lebih lanjut dan mama langsung setuju “besok kita rongten yah” Huuuhhhh dibilangin sama anaknya ga nurut, giliran ketemu dokter sebentar langsung aja nurut. Saya memang harus bersabar.
Giliran mau ke dokter, kami masih berdebat tuk menentukan rumah sakit yang tepat. Mama ga mau mengeluarkan uang banyak untuk hal yang dia anggap tidak penting. Saya sampai putar otak mencari rumah sakit kecil tuk mendapatkan tarif yang sesuai, namun tetap saja, hanya untuk rongten, ratusan ribu harus keluar.
Hasil rongten menyatakan “partial fraktur tanpa dislokasi” atau patah tulang, mama harus konsul ke dokter ortopedi untuk penyembuhan. Saya pikir kali ini pasti mama nurut, tapi dugaan saya meleset, mama malah minta diantar ke tukang patah tulang. Menurutnya yang menyebabkan dia tak kunjung sembuh adalah salah sasaran. Tadinya indikasi awal hanya keseleo, makanya tukang urut jadi pilihan. Jika dari awal dia tau patah tulang, pastilah dia langsung ke ahli patah tulang. Huuuhhh saya benar – benar dibuat pusing.
Ini seperti berhadapan dengan orang bandel dan keras kepala. Jika bertemu orang seperti ini, cara paling mudah yah cuekin saja. Tetapi sangat sulit menjadi acuh jika orang yang bandel ini adalah orang yang kamu sayangi. Tentu saja kamu tetap peduli meski tidak didengar. Kamu ingin dia sembuh, apapun caranya.
“Jadi mama maunya gimana sih?” Sebagai anak saya ga bisa memaksa, saya hanya jadi supir yang mengantar dan berusaha merayu agar mama mau ke ortopedi.
“ke tukang patah tulang.” mama tetap berkeras hati. Saya tak punya pilihan lain dan menurutinya, sambil berdoa, moga – moga pikirannya berubah.
…….
Setelah tanya sana sini, mama minta diantar ke ahli tulang kenalannya. Ini ahli tulang paling terkenal dari kampong halaman mama, sudah 3 generasi keluarga ini menekuni praktek patah tulang. Nenek, om dan sepupu saya sembuh berkat keajaiban tangannya.
Saya bukannya anti pengobatan traditional, hanya saja ini menyangkut mama, orang yang saya sayangi, saya ingin yang terbaik, bukan sekedar coba – coba. Dokter, tenaga medis modern setidaknya bisa menjelaskan sakit penyakit dan proses penyembuhan lebih jelas. Tapi sekali lagi, saya tak punya banyak pilihan, selain nurut.
…..
Pencarian lokasi ahli tulang ini penuh perjuangan, memasuki lorong dan jalan tikus, belum lagi 4 kali salah alamat. Akhirnya kami sampai juga ke tempat yang dimaksud, rumah mewah di gang sempit dengan puluhan kursi berjejer. Kami beruntung jadi orang pertama yang datang. Tak lama, pasien lain mulai berdatangan, semua dengan keluhan di tulang. Di depan rumah terlihat papan nama ijin praktek bertuliskan ‘dokter Lay’ “hmm…jadi dia juga menyebutkan dirinya sebagai dokter?” pikir saya penuh keraguan.
Masuk ke ruang praktik saya langsung terkesima. Si ahli tulang ini sangat muda dan ramah, tidak sesuai dengan bayangan saya. Ternyata praktek penyembuhan tulang telah dilanjutkan ke generasi ke empat. Dan hebatnya lagi, si anak yang menggantikan posisi ayahnya telah mengemban pendidikan medis formal, jadi dia benar – benar layak menyebut dirinya sebagai dokter. Ini perpaduan antara pengobatan modern dan traditional, gabungan antara keinginan mama dan saya.
…….
Dokter Lay mulai memeriksa, karena berasal dari satu kampung, bahasa daerahlah yang dipakai, mama jadi semakin nyaman. Saya pun ikut membantu, mengunting perban, menggulung serta membantu menarik posisi tulang yang benar. Sampai – sampai saya dibilang “kayaknya kamu berbakat jadi asisten dokter.” Yah, dokter bukan orang pertama yang berpendapat seperti itu hihihi
Penjelasan lengkap diberikan melalui hasil rongten dan gambar, obat yang diberikan gabungan antara obat modern dan obat cina. Dengan sabar dokter menjawab semua pertanyaan mama, tak peduli banyaknya orang yang mengantri di luar. Ada perlakuan personal di sana, mama benar - benar puas. Belum lagi dokter berpesan “ini nomor handphone saya, kalau ada apa – apa, harap hubungi saya, kapan saja.”
…..
Pengobatan modern atau traditional, mana yang kamu pilih? Pada akhirnya buat saya imanlah yang menyembuhkan. Keyakinan kamu terhadap metode pengobatan tertentu yang akhirnya membuat kamu sembuh. Ke dokter atau ahli tulang, yang penting kamu punya keyakinan kalau kamu bisa sembuh melalui perantara orang ini. Jika saya paksakan mama bertemu ortopedi, mungkin mama tak kunjung sembuh karena ia punya mosi tak percaya. Sekarang karena saya dan mama sepakat dokter lay bisa menjadi saluran menyembuhkan, tentulah mama akan semakin cepat sembuh.
Pertarungan sengit ini berakhir dengan perdamaian. Tak ada yang menang maupun kalah. Kondisi mama semakin membaik dan selesai sudah.












Recent Comments