Dear diary….
Saya punya kecintaan khusus dengan diary. Setiap masuk toko buku, tak bosan saya menyentuh, meraba serta melihat deretan agenda yang tersedia. Mulai dari yang formal, yang biasa dikeluarkan tiap tahun, atau yang lucu, keluaran morning glory ataupun produk korea – cina yang sekarang sudah menjamur. Meski seringnya tidak membeli, belanja mata sudah membawa kenikmatan tersendiri.
Biasanya awal tahun saya jadikan alasan untuk boros beli agenda baru. Apalagi saat sekolah, saya yakinkan kalau diary itu penting untuk mencatat jadwal ulangan, PR serta kegiatan sekolah lainnya. Terlebih saya pelupa, jadi agenda itu wajib.
Setelah diary terbeli, yang diisi jauh dari urusan sekolah, yang ada malah curahan obsesi, prestasi, tangisan, kemarahan, keegoisan dan tentunya cerita cinta.
Baru – baru ini saya menemukan kembali agenda sekolah di tahun 1998 – 1999. Saat saya usia 16 tahun dan meninjak kelas 2 SMU. Diary itu seperti mesin waktu, membaca lembar demi lembar membawa saya masuk ke masa lalu. Bertemu Vennie yang lugu, egois, malu – maluin dan juga penuh penuh obsesi.
Diary ini menulis kisah hari demi hari, yang paling seru te ntunya kisah cinta. Mulai dari naksir, pendekatan, sampe cemburu buta, semuanya tumpah di sana. Kehidupan SMU memang tak bisa dipisahkan dengan cinta. Sayangnya semua kisah ditulis dengan intial nama sandi dan saking banyaknya tokoh yang terlibat, saya sampai kesulitan menebak siapa nama yang dimaksud.
Ada orang yang datang dan pergi, sampai sudah saya lupakan. Ada juga yang masih bertahan sampai bikin senyum – senyum sendiri. Ada cerita tentang sahabat yang dulunya saya benci, musuh besar di kelas. Seluruh isi menceritakan bagaimana sebelnya, marahnya atau ga sukanya saya sama dia, semua diceritakan secara mendetail. Namun sekarang, setelah hampir 10 tahun, saya malah berteman dekat dengannya, bahkan ikut membantu mengurus rencana pernikahannya.
Adapula persahabatan yang baru terjalin, namun sudah diprediksikan akan bertahan lama. Kedekatan kami diawali dengan rasa senasib - sepenanggungan dan masih terjalin hingga sekarang. Saat sohib ini mutasi ke Jepang, ramalan bintang majalah langganan saya bahkan menulis “Seseorang yang dekat dengan Anda akan berpergian jauh. Ada rasa kehilangan.”
Setelah puas membaca, saya jadi tahu kalau dulu saya bandel. Setiap hari penuh dengan cerita dimarahain atau dihukum guru untuk hal sepeleh. Untuk ukuran pelajar saya cukup aktif dan sangat setia kawan. Buat saya kala itu, teman adalah segalanya.
Untuk urusan cinta, saya cukup laku (ini serius…), tapi yang terjadi adalah banyak yang suka dan saya tidak. Giliran saya suka, orangnya tidak menanggapi. 24 Oktober 2007 saya menulis
“Setidaknya hal ini menjadi sweet memory untuk gue, biar gue jangan terlalu mencintai sesuatu, klo gue siap mencintai, gue juga siap untuk dikecewain.”
Sebuah nasihat yang rasanya masih relevan hingga sekarang.
Yang paling membanggakan buat saya, catatan ini adalah catatan sejarah, tentang diri saya, tentang masa lalu, dan juga masa depan. Bagaimanapun juga, Vennie yang sekarang tak lepas dari campur tangan Vennie di usia 16 tahun. Saya bersyukur untuk setiap keputusan yang diambil di kala itu. Keputusan yang mungkin tidak selalu yang terbaik, namun selalu ada motivasi belajar dibaliknya.
Sebagai penutup, saya bagikan sebuah rahasia. Jaman SMU dulu, saya masih gandrung dengan ramal meramal dan Sabtu, 5 Desember 1998 saya dan seorang teman pernah diramal dan berjanji untuk menikah di usia 28 tahun. Berarti, masih ada sisa 3 tahun buat saya. Kita nantikan saja sejauh mana keakuratan ramalan ini. Hihi

Hihi.. is it me? your friend who moved to Jap and a friend when you were 16 and still your friend when you are 26? haha..either yes or no, I am really grateful for those precious moments spent together, laughs and tears shared, love story (stories for you haha..). I missed those moments, Ven. I missed the moments where we have nothing else to think about except acting as what every teen does, and of course pray for revival at our school. I miss that moment, I miss you, I miss all the friends in high school, and I still have a strong desire to see revival in our school, prob it is happening right now. Amen.. :)
Ven, thank you for being my friend. Am sorry that I was not there with you and others for these recents years. Can't turn back time, but after I return to jkt, promise, I will join the every dinner/lunch/shopping/hair cut/unwind/etc. Promise is a promise :)
Posted by: Catherine | January 7, 2008 03:14 AM
Mau dong baca diary nya ven.. :D
Posted by: Api | March 28, 2008 01:15 PM