« September 2007 | Main | November 2007 »

Kemantapan Hati

Brake_2Berawal dari reuni SD yang semakin rutin diadakan, dan entah kenapa acara yang seharusnya jadi ajang silahturami berubah jadi ajang curhat. Temanya satu, patah hati. Satu persatu mengeluhkan kisah cintanya yang krisis dan kandas di tengah jalan. Kisahnya beragam dan kadang sulit dimengerti.

Ada si A, sudah 3 tahun pacaran. Semua berjalan baik – baik saja, sampai saat tuntutan melangkah ke jenjang berikut mulai didengungkan dan keraguan mulai muncul. “Gw ga ada masalah pacaran sama orang ini, tapi untuk menikah dengan dia, nanti dulu” curhatan si A mulai meluncur sampai saya balik bertanya. “Kalo orang ini ga mau loe nikahi, buat apa pacaran?”

Sepertinya ada perbedaan antara pacaran dan pernikahan. Dan saya setuju, cinta saja tidak cukup menjadi dasar pernikahan. Bisa jadi orang yang kamu nikahi berbeda dengan orang yang kamu pacari. Bisa jadi kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cinta – cinta amat, cintanya biasa saja, tapi orang ini sepadan dan mampu mengimbangi kamu hingga dialah yang terpilih. Kata orang, cinta itu bisa dipelajari belakangan.

Lalu datang si B, pacaran hampir 10 tahun, siap nikah, cocok setengah mati, namun akhirnya ngotot putus juga. Dan hebatnya lagi saat keputusan itu keluar, jalur komunikasi mereka putus begitu saja. Padahal selama 10 tahun setiap hari telpon, sms dan bertatap muka, tapi semua berhenti begitu saja. Tiba – tiba sosok yang menemani setiap hari musnah di tengah kemelut percekcokan dan mereka berubah menjadi orang asing.

Saya lalu bertanya, apa dia tidak menyayangkan sejarah 10 tahun yang sudah tertoreh? Jawabnya tidak, malah sedikit lega karena masalah yang menumpuk sejak lama akhirnya selesai juga. Saya kagum, bagaimanapun juga, dibutuhkan lebih dari keberanian untuk berhenti di usia 10 tahun. Yah, apalah artinya 10 tahun dibanding sisa hidup 55 tahun (kita pukul rata usia manusia 80 tahun) hidup dalam sebuah penyesalan.

Tidak laki – laki, tidak perempuan, semua datang dengan pergumulan. Sayangnya di antara 10 teman yang hadir, tak satupun dari kami yang sudah menikah. Akhirnya saya, harus jadi telinga curahan hati mereka.

BrokeSaya sampai gerah, saat si C datang, langsung saya todong pertanyaan. “Loe ga putus kan? Loe baik – baik saja kan?” dan virus itu memang menular, si C baru saja putus. Hubungan 3 tahun terhenti dengan kata yang terucap begitu saja. “Kita putus” Tak ada pertanyaan lebih lanjut, tak ada penolakan, tak ada penjelasan, semua mengalir begitu saja dan selesai sudah. “Gw bosen!” itu alasannya saat ditanya kenapa kata “putus” bisa keluar dari mulutnya. Well….ukuran 3 tahun memang jangka waktu yang panjang. Bukankah rasa jenuh sudah termasuk dalam paket hubungan jangka panjang? Apa iya kamu tidak pernah memperhitungkannya? Jenuh, bosan, itu mah biasa banget.

“Lagipula yang bersangkutan tidak menolak, tidak menahan, tidak melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan ini. Jadi, kita sudahi saja.” Wah..jika kamu mempertaruhkan status hubungan hanya untuk diperhatikan dan ingin dibujuk, saya tak tahu harus bilang apa. “Yah sudahlah, mungkin belum jodoh.” Komentar standar saya.

Curhat paling heboh datang dari si D. Mereka sudah siap nikah, pembicaraan dengan orang tua sudah dilakukan, proses beli rumah sudah direncanakan matang dan semua musnah saat pasangan diketahui berselingkuh. Nah, ini baru cerita. Kami semua semakin intens mendengarkan. “Bagaimana ceritanya bisa ketahuan, trus orang tuanya gimana, apa kamu langsung lihat dengan mata kepala sendiri?” Cerita semakin seru. Intinya pasangan mengaku saat ditanya ada orang ketiga. Teman saya siap nikah, tapi tidak demikian dengan pasangannya. Beberapa kali si D ingin kembali ke pelukan kekasih, namun segera kami cegah. “Udah deh, bersyukurlah kalau semua terbongkar saat janji nikah belum terucap, memang mungkin belum jodoh.” Nasihat teman lain.

LovePutus, kabar ini semakin sering saya dengar. Hari ini kembali sepasang teman saya diguncang krisis, tahunan sudah jalinan kasih mereka terjalin dan jujur, tak pernah sedikitpun terbersitkan di pikiran kalau mereka akan putus. Mereka sudah jadi pasangan idola, panutan dan impian. Ini mungkin jadi kebanggaan sekaligus beban untuk mereka. Entah apa masalahnya, dan sebagai orang luar, saya tak perlu tahu karena saya sama sekali tidak terlibat di dalam hubungan tersebut. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka, apapun itu, haruslah yang terbaik.

Ok, saya sudah bersikap bias dengan hanya menceritakan berita duka. Saya harus mengimbanginya dengan berita sukacita. Selain kabar putus, beberapa undangan pernikahan juga berdatangan. Sore tadi, sohib saya, sebut saja si E, mengabarkan bahwa pernikahannya dipercepat. Semua persiapan sudah mantap, baik jasmani dan rohani. Kemantapan hati mematangkan mereka untuk melangkah ke pelaminan awal bulan depan. Saudara ipar saya juga mantap mengucapkan janji nikah desember nanti, belum lagi adik kelas yang mengundang saya tuk datang ke pernikahannya di luar kota dan akomodasi lengkap ditanggung.

Wah…sepertinya tahun ini memang tahun pemantapan hati, antara kabar putus ataupun nikah, yang saya lihat, teman – teman saya berubah jadi sosok yang berani membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Mengambil kekuatan untuk menentukan arah pasti dalam hidup mereka dan itu harus diacungi jempol. Tetap semangat teman…

                            

Dear diary….

DiarySaya punya kecintaan khusus dengan diary. Setiap masuk toko buku, tak bosan saya menyentuh, meraba serta melihat deretan agenda yang tersedia. Mulai dari yang formal, yang biasa dikeluarkan tiap tahun, atau yang lucu, keluaran morning glory ataupun produk korea – cina yang sekarang sudah menjamur. Meski seringnya tidak membeli, belanja mata sudah membawa kenikmatan tersendiri.

Biasanya awal tahun saya jadikan alasan untuk boros beli agenda baru. Apalagi saat sekolah, saya yakinkan kalau diary itu penting untuk mencatat jadwal ulangan, PR serta kegiatan sekolah lainnya. Terlebih saya pelupa, jadi agenda itu wajib.

Setelah diary terbeli, yang diisi jauh dari urusan sekolah, yang ada malah curahan obsesi, prestasi, tangisan, kemarahan, keegoisan dan tentunya cerita cinta.

Baru – baru ini saya menemukan kembali agenda sekolah di tahun 1998 – 1999. Saat saya usia 16 tahun dan meninjak kelas 2 SMU. Diary itu seperti mesin waktu, membaca lembar demi lembar membawa saya masuk ke masa lalu. Bertemu Vennie yang lugu, egois, malu – maluin dan juga penuh penuh obsesi.

ShockDiary ini menulis kisah hari demi hari, yang paling seru te ntunya kisah cinta. Mulai dari naksir, pendekatan, sampe cemburu buta, semuanya tumpah di sana. Kehidupan SMU memang tak bisa dipisahkan dengan cinta. Sayangnya semua kisah ditulis dengan intial nama sandi dan saking banyaknya tokoh yang terlibat, saya sampai kesulitan menebak siapa nama yang dimaksud.

Ada orang yang datang dan pergi, sampai sudah saya lupakan. Ada juga yang masih bertahan sampai bikin senyum – senyum sendiri. Ada cerita tentang sahabat yang dulunya saya benci, musuh besar di kelas. Seluruh isi menceritakan bagaimana sebelnya, marahnya atau ga sukanya saya sama dia, semua diceritakan secara mendetail. Namun sekarang, setelah hampir 10 tahun, saya malah berteman dekat dengannya, bahkan ikut membantu mengurus rencana pernikahannya.

Adapula persahabatan yang baru terjalin, namun sudah diprediksikan akan bertahan lama. Kedekatan kami diawali dengan rasa senasib - sepenanggungan dan masih terjalin hingga sekarang. Saat sohib ini mutasi ke Jepang, ramalan bintang majalah langganan saya bahkan menulis “Seseorang yang dekat dengan Anda akan berpergian jauh. Ada rasa kehilangan.”

Setelah puas membaca, saya jadi tahu kalau dulu saya bandel. Setiap hari penuh dengan cerita dimarahain atau dihukum guru untuk hal sepeleh. Untuk ukuran pelajar saya cukup aktif dan sangat setia kawan. Buat saya kala itu, teman adalah segalanya.

Untuk urusan cinta, saya cukup laku (ini serius…), tapi yang terjadi adalah banyak yang suka dan saya tidak. Giliran saya suka, orangnya tidak menanggapi. 24 Oktober 2007 saya menulis

Setidaknya hal ini menjadi sweet memory untuk gue, biar gue jangan terlalu mencintai sesuatu, klo gue siap mencintai, gue juga siap untuk dikecewain.”

Sebuah nasihat yang rasanya masih relevan hingga sekarang.

Diary2Yang paling membanggakan buat saya, catatan ini adalah catatan sejarah, tentang diri saya, tentang masa lalu, dan juga masa depan. Bagaimanapun juga, Vennie yang sekarang tak lepas dari campur tangan Vennie di usia 16 tahun. Saya bersyukur untuk setiap keputusan yang diambil di kala itu. Keputusan yang mungkin tidak selalu yang terbaik, namun selalu ada motivasi belajar dibaliknya.

Sebagai penutup, saya bagikan sebuah rahasia. Jaman SMU dulu, saya masih gandrung dengan ramal meramal dan Sabtu, 5 Desember 1998 saya dan seorang teman pernah diramal dan berjanji untuk menikah di usia 28 tahun. Berarti, masih ada sisa 3 tahun buat saya. Kita nantikan saja sejauh mana keakuratan ramalan ini. Hihi

Turun ke jalan

Bus_1Sudah 2 bulan terakhir saya kembali ke jalan. Maksudnya, sama seperti ribuan masyarakat Jakarta pada umumnya, saya kembali menggunakan transportasi umum. Ikut berpanas ria, antri, himpit – himpitan, rebutan kursi, nunggu sembarangan, turun sembarangan, pokoknya lengkaplah jadi penduduk Jakarta.

Udara yang panas semakin panas. Lembaran tissue berkali kali saya gunakan untuk menyeka keringat. Saya tidak terbiasa dengan keringat yang menempel di wajah, wong biasanya duduk manis didepan AC mobil. Tapi yah begitu, perlengkapan saya harus ditambah dengan dompet kecil yang berisi uang kecil ongkos angkot dan juga air minum bekal di jalan.

Turun ke jalan berarti keluar dari wilayah kenyamanan saya. Tak lagi bebas menentukan ingin ke mana dan lewat mana, semua tergantung trayek yang ada. Tak lagi bebas menentukan kapan berangkat, berhenti dan tiba di satu lokasi, semua tergantung pak supir. Namun pada saat yang bersamaan, saya merasa teruntung tidak terjebak di tengah gilanya kemacetan Jakarta.

Jakarta semakin menggila, itu faktanya sekarang. Segala macam proyek dijalankan pada saat bersamaan, pembangunan jalur busway yang memakan bahu jalan membuat Pluit, Kelapa Gading, Pondok Indah, Jalan Panjang jadi macet total. Belum lagi ritual puasa yang membuat jalanan padat merayap menjelang berbuka. Semuanya benar – benar gila. Saya kerap mendengar keluhan para sahabat yang terjebak di jalan, yang tadinya beberapa menit jadi beberapa jam. Ekstrim memang, pemborosan waktu, energi, bahan bakar dan tenaga berlangsung jor – joran.

Bus2Saya, yang tak lagi punya rutinitas dan kendaraan tetap, bisa berlega hati karena tak ikut ambil bagian. Jika mau pergi ke sebuah tempat, saya tinggal naik angkutan umum. Macet di jalan? Saya bisa tidur, kaki dan betis bebas dari menginjak pedal kopling. Kalau terburu – buru, saya bisa memilih untuk jalan kaki atau menumpangi ojek gesit yang jago selip sana – sini. Kalau benar – benar macet total, saya pilih jalan kaki yang pastinya lebih cepat. Saya pernah jalan dari halte harmoni sampai taman anggrek. Sedikit olahraga namun segera sampai di tujuan.

Panas? Pilih saja angkutan bus AC yang biasanya lebih sepi. Sekali naik lima ribu rupiah, jika naik di pertengahan trayek kita bisa tawar hingga tiga ribu rupiah. Dengan sistem angkutan ibukota, turun naik di mana saja tinggal pilih.

Cape, lelah? Tinggal turun di mal terdekat (yang sekarang bertaburan di mana – mana) tuk sekedar ngadem ataupun melepas rasa lapar dan dahaga, tak perlu pusing dengan parkiran kendaraan.

Urusan biaya jelas – jelas lebih murah. Meski untuk mencapai lokasi tertentu saya harus turun naik angkot beberapa kali, namun total kerusakannya masih jauh lebih ringan dibanding harga bahan bakar yang semakin selangit, bahkan jika saya menggunakan taksi ataupun ojek, harganya tetap saja lebih murah.

Masalah antri bisa saya siasati dengan menghindari jam – jam yang dipastikan punya tingkat kepadatan tinggi. Jabatan freelance buat saya bisa suka – suka mengatur waktu. Bisa jadi saya pergi pagi – pagi benar, atau malam sekali, yang penting bisa menikmati.

Lalu soal keamanan? Saya yakin ini jadi bahan pertimbangan terbesar. Siasatnya adalah dengan berpikiran positif bahwa tak ada yang mau mencelakai kita dan berpenampilan tidak mencolok. Naik angkutan umum berarti kita mau jadi bagian dari masyarakat umum, masyarakat kebanyakan yang penuh kesederhanaan.

Bus3Hmm…terus terang saya prihatin dengan kondisi kemacetan Jakarta yang semakin menjadi. Penguasa daerah yang menjabat sekarang maupun yang akan menggantikan seakan tak peduli. Bukannya memperbaiki, justru memperparah keadaan. Saya pun punya kuasa memberi solusi, bahkan tak tahu apakah angkutan umum bisa menjadi alternatif karena pastinya tidak semua orang cocok mengikuti jejak saya. Lagipula melihat situasi saya, ini bukan pilihan tapi keputusan final.

Saya tidak akan menyarankan kalian untuk menggunakan angkutan umum, meski demikian saya mengajak kalian untuk mencoba, kali – kali saja ada kecocokan. Namun sekali lagi, semua kembali kepada kalian semua.

Pertanyaan tak berujung

Teman saya menikah, perempuan, satu angkatan, usia sedikit lebih tua karena dia lahir di tahun 81 (sedangkan saya di tahun ’82. Meski selisih tidak genap 12 bulan, tetap saja saya berasa dia lebih tua satu tahun dari saya). Ini teman satu sekolah, jadi bisa ditebak pesta pernikahan berubah jadi ajang reuni.

Sebelum berangkat berbagai persiapan sudah dilakukan. Dengan siapa harus berangkat, naik apa, dan yang paling penting, kostum apa yang dikenakan (kami tak mau terlihat terlalu heboh ataupun terlalu kere di tengah teman lama), bahkan jam berapa harus berangkat pun jadi perdebatan. Saya mau hadir tepat waktu, sedangkan teman saya menuntut “fashionably late” yang artinya 15 - 30 menit terlambat dari jadwal. Namun karena saya yang nyetir, saya yang pegang kendali. Kami tiba tepat waktu.

Bertemu teman lama sudah pasti artinya banyak pertanyaan yang dihadapi.

“Apa kabar?”

“Datang sama siapa?

“Lagi sibuk apa?”

“Loe ga berubah deh.”

“Kayaknya kamu kurusan/gendutan yah?”

PestaIni pertanyaan pembukaan, yang saya anggap basa – basi. Sekedar memecahkan suasana, atau sekedar menutupi rasa tidak nyaman, sudah bertemu tapi tak tahu harus bicara apa, hingga basa – basi yang dipilih.

Setelah pembicaraan semakin hangat, baru kemudian gong pertanyaan sebenarnya keluar. Bagi yang datang sendiri, dengan teman sesama jenis ataupun dengan saudara kandung pasti ditanya:

“Pacar mana?”

Bagi yang sudah pacaran baik dengan orang baru, atau pasangan lama dari jaman sekolah bakal ditagih:

“Kapan nyusul?”

Bagi yang baru menikah dan datang dengan pasangannya akan dibilang:

“Dah isi blom?”

Bahkan sahabat saya yang datang bersama anak perempuannya yang lucu dituntut:

“Kapan nih si kecil punya adik?”

Yaa ampun…pertanyaan tak habis – habisnya, bagai lingkaran yang terus memutar, siklus yang tak berujung. Apapun kondisi anda, pasti ada saja pertanyaan “tuntutan” yang diajukan. Tiba – tiba teman yang bertanya berubah menjadi polisi yang datang menagih. Dan anda, seperti pengendara yang tertangkap basah karena tak punya jawaban memuaskan.

Datang sendiri, harusnya dengan pacar.

Datang bersama pacar, harusnya segera menikah.

Datang dengan pasangan sah, harusnya cepat – cepat punya anak.

Datang dengan pasangan sah dan anak, harusnya punya momongan lagi.

(Sejauh ini tingkat tertinggi adalah teman yang beranak satu. Tak tahu pertanyaan apa yang diajukan untuk teman yang beranak lebih dari satu, apakah tuntutan punya momongan lebih akan terus bergulir? Atau ia berganti wujud bahkan berhenti?)

Sebagai bagian dari kelompok tingkat terendah (yang tak punya pacar, pasangan maupun anak) saya belajar untuk bersyukur dengan apa yang saya miliki dan tidak terfokus pada apa yang tidak saya miliki. Saya bilang saja, semua ada masanya dan tak batasan di sana. Artinya tak ada kata terlambat ataupun terlalu cepat, waktu berputar berbeda di setiap individu.

Saya pun tak ikut menanyakan pertanyaan “wajib” tersebut kepada orang lain. Intinya merayakan apa yang dimiliki sekarang dibanding menuntut apa yang belum dimiliki.

Jadi….

Pesta2Jika bertemu teman yang sendiri, lebih baik tanya tentang kegiatan yang ia tekuni.

Jika teman bersama pacar, tanyakan tentang mereka, tentang hubungannya. (libatkan mereka berdua dalam percakapan sebagai kesatuan hingga tak ada yang merasa disingkirkan)

Jika teman suami istri, tanyakan saja bagaimana kehidupan pernikahan mereka.

Dan terakhir, jika teman datang bersama anak, bicarakan tentang apa rasanya menjadi orang tua.

Jika begini tak ada lagi tuntut menuntut, tak ada lagi perasaan tidak enak karena tak punya jawaban dan semua bisa menikmati pesta. Namun harus juga diingat, kalian hadir untuk sebuah pernikahan, bukan reuni. Jangan sampai keasyikan ngobrol, keasyikan foto – foto bareng hingga prosesi sakral janji nikah terabaikan.

Selamat menikah teman, semoga tak ada lagi pertanyaan tuntutan yang kalian hadapi. Selamat menempuh hidup baru.

Efek kafein

Pulang kondangan saya diajak teman ngopi di dekat rumahnya.

Machiato double expresso saya tegak.

CoffeeSayangnya di kafe ini tidak menyediakan sweetener,

Hingga hanya rasa pahit asam biji robusta mengalir di tenggorokan.

Usai ngafe saya jadi hiperaktif,

Tubuh terus – menerus terpacu sepanjang malam,

Blog friendster jadi satu satunya tempat pelarian,

Kumpulan tulisan ini buktinya,

Ditulis dengan efek kafein tingkat tinggi.

Selamat menikmati….

Nasihat….

Pernahkah kamu merasa jenuh saat dinasehati?

Mulut“Jangan pulang malam – malam, nanti bahaya”

“Jangan pergi dugem, nanti kena narkoba”

“Jangan main mulu, belajar, nanti ga naik kelas”

“Jangan lupa bawa payung, nanti hujan”

Dari hal yang sepele sampe yang up to date, semua diomongi. Padahal saya sudah besar, padahal saya tak lagi disebut sebagai remaja. Bukankah usia seperempat abad berarti sudah dewasa? Dewasa berarti bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah. Dewasa berarti punya kebebasan.

Kalaupun saya menyerempet bahaya, saya ambil resikonya. Saya berasa berhak karena dewasa tadi. Lagipula, saya ga bodoh – bodoh amat. Saya sudah memperlajari resikonya dan sejauh ini indikasinya aman – aman saja. Makanya saya berani melakukannya.

“Saya pergi malam – malam karena saya tahu jelas kemana dan dengan siapa saya pergi, termasuk kalau pergi dugem. Saya tau seperti apa tempat yang dituju dan sejauh ini jauh dari daerah peredaran narkoba.”

“Saya memilih untuk terus bermain karena saya memang ingin bermain. Lagipula saya tahu batasannya, pastilah tak ada hubungannya dengan naik atau tinggal kelas.”

“Saya tidak bawa payung karena ini bukan musim hujan. Lagipula bawaan saya berat, langit cerah dan matahari terang benderang. Tak ada tanda – tandanya hujan kan datang.”

Dengan dinasehati, saya jadi merasa dibatasi. Lagi - lagi dituntun, dikasih tahu, jadi merasa seperti anak kecil, serasa kebebasan saya direbut. Namun saya tak jua punya pilihan. Dinasehati itu seperti doa restu, kalau mau aman yah harus dituruti. Kalau tidak, nanti yang ada malah kejadian.

“Beneran ada bahaya menghadang”

“Tiba – tiba ada razia anti narkoba di tempat dugem yang saya kunjungi”

“Tanpa disangka ga naik kelas”

“Mendadak hujan”

Saya ga mau nantinya dibilang “tuh kan sudah dibilang, ga mau dengerin sih…..” Nasehat itu bisa jadi setengah paksaan sekaligus menakut - nakuti. Saya suka ngedumel dalam hati “Kenapa sih doain yang jelek – jelek, kalo ga diomongin juga ga bakal kejadian. Kalau sekarang dah diomongin, kan jadinya ikutan takut.”

Iya..iya…saya tahu, nasehat itu dasarnya sayang, dasarnya peduli. Bukan menakuti – nakuti ataupun mendoakan yang jelek – jelek, justru sebaliknya, yang menasehati mau yang terbaik, berusaha menghindarkan saya dari hal – hal buruk. Saya ngerti kok, tapi tetap saja, rasanya ga rela. Saya memang suka menyerempet bahaya, saya suka saat adrenalin saya terpacu karena berhadapan dengan garis merah tanda bahaya. Toh selama ini baik – baik saja.

ManyunHuuhhh….saya tetap ga rela, mulut manyun ini buktinya. Kalaupun saya ngambek, itu setimpal dengan apa yang saya alami, toh saya dinasehati, diperlakukan seperti anak kecil, dan itulah yang dilakukan anak kecil, ngambek…Saya menjalankan ini setengah hati, kalaupun saya nurut, ini bukan karena saya, tapi karena yang menasehati, toh landasannya sayang kan?

My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31