Kemantapan Hati
Berawal dari reuni SD yang semakin rutin diadakan, dan entah kenapa acara yang seharusnya jadi ajang silahturami berubah jadi ajang curhat. Temanya satu, patah hati. Satu persatu mengeluhkan kisah cintanya yang krisis dan kandas di tengah jalan. Kisahnya beragam dan kadang sulit dimengerti.
Ada si A, sudah 3 tahun pacaran. Semua berjalan baik – baik saja, sampai saat tuntutan melangkah ke jenjang berikut mulai didengungkan dan keraguan mulai muncul. “Gw ga ada masalah pacaran sama orang ini, tapi untuk menikah dengan dia, nanti dulu” curhatan si A mulai meluncur sampai saya balik bertanya. “Kalo orang ini ga mau loe nikahi, buat apa pacaran?”
Sepertinya ada perbedaan antara pacaran dan pernikahan. Dan saya setuju, cinta saja tidak cukup menjadi dasar pernikahan. Bisa jadi orang yang kamu nikahi berbeda dengan orang yang kamu pacari. Bisa jadi kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cinta – cinta amat, cintanya biasa saja, tapi orang ini sepadan dan mampu mengimbangi kamu hingga dialah yang terpilih. Kata orang, cinta itu bisa dipelajari belakangan.
Lalu datang si B, pacaran hampir 10 tahun, siap nikah, cocok setengah mati, namun akhirnya ngotot putus juga. Dan hebatnya lagi saat keputusan itu keluar, jalur komunikasi mereka putus begitu saja. Padahal selama 10 tahun setiap hari telpon, sms dan bertatap muka, tapi semua berhenti begitu saja. Tiba – tiba sosok yang menemani setiap hari musnah di tengah kemelut percekcokan dan mereka berubah menjadi orang asing.
Saya lalu bertanya, apa dia tidak menyayangkan sejarah 10 tahun yang sudah tertoreh? Jawabnya tidak, malah sedikit lega karena masalah yang menumpuk sejak lama akhirnya selesai juga. Saya kagum, bagaimanapun juga, dibutuhkan lebih dari keberanian untuk berhenti di usia 10 tahun. Yah, apalah artinya 10 tahun dibanding sisa hidup 55 tahun (kita pukul rata usia manusia 80 tahun) hidup dalam sebuah penyesalan.
Tidak laki – laki, tidak perempuan, semua datang dengan pergumulan. Sayangnya di antara 10 teman yang hadir, tak satupun dari kami yang sudah menikah. Akhirnya saya, harus jadi telinga curahan hati mereka.
Saya sampai gerah, saat si C datang, langsung saya todong pertanyaan. “Loe ga putus kan? Loe baik – baik saja kan?” dan virus itu memang menular, si C baru saja putus. Hubungan 3 tahun terhenti dengan kata yang terucap begitu saja. “Kita putus” Tak ada pertanyaan lebih lanjut, tak ada penolakan, tak ada penjelasan, semua mengalir begitu saja dan selesai sudah. “Gw bosen!” itu alasannya saat ditanya kenapa kata “putus” bisa keluar dari mulutnya. Well….ukuran 3 tahun memang jangka waktu yang panjang. Bukankah rasa jenuh sudah termasuk dalam paket hubungan jangka panjang? Apa iya kamu tidak pernah memperhitungkannya? Jenuh, bosan, itu mah biasa banget.
“Lagipula yang bersangkutan tidak menolak, tidak menahan, tidak melakukan apapun untuk mempertahankan hubungan ini. Jadi, kita sudahi saja.” Wah..jika kamu mempertaruhkan status hubungan hanya untuk diperhatikan dan ingin dibujuk, saya tak tahu harus bilang apa. “Yah sudahlah, mungkin belum jodoh.” Komentar standar saya.
Curhat paling heboh datang dari si D. Mereka sudah siap nikah, pembicaraan dengan orang tua sudah dilakukan, proses beli rumah sudah direncanakan matang dan semua musnah saat pasangan diketahui berselingkuh. Nah, ini baru cerita. Kami semua semakin intens mendengarkan. “Bagaimana ceritanya bisa ketahuan, trus orang tuanya gimana, apa kamu langsung lihat dengan mata kepala sendiri?” Cerita semakin seru. Intinya pasangan mengaku saat ditanya ada orang ketiga. Teman saya siap nikah, tapi tidak demikian dengan pasangannya. Beberapa kali si D ingin kembali ke pelukan kekasih, namun segera kami cegah. “Udah deh, bersyukurlah kalau semua terbongkar saat janji nikah belum terucap, memang mungkin belum jodoh.” Nasihat teman lain.
Putus, kabar ini semakin sering saya dengar. Hari ini kembali sepasang teman saya diguncang krisis, tahunan sudah jalinan kasih mereka terjalin dan jujur, tak pernah sedikitpun terbersitkan di pikiran kalau mereka akan putus. Mereka sudah jadi pasangan idola, panutan dan impian. Ini mungkin jadi kebanggaan sekaligus beban untuk mereka. Entah apa masalahnya, dan sebagai orang luar, saya tak perlu tahu karena saya sama sekali tidak terlibat di dalam hubungan tersebut. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka, apapun itu, haruslah yang terbaik.
Ok, saya sudah bersikap bias dengan hanya menceritakan berita duka. Saya harus mengimbanginya dengan berita sukacita. Selain kabar putus, beberapa undangan pernikahan juga berdatangan. Sore tadi, sohib saya, sebut saja si E, mengabarkan bahwa pernikahannya dipercepat. Semua persiapan sudah mantap, baik jasmani dan rohani. Kemantapan hati mematangkan mereka untuk melangkah ke pelaminan awal bulan depan. Saudara ipar saya juga mantap mengucapkan janji nikah desember nanti, belum lagi adik kelas yang mengundang saya tuk datang ke pernikahannya di luar kota dan akomodasi lengkap ditanggung.
Wah…sepertinya tahun ini memang tahun pemantapan hati, antara kabar putus ataupun nikah, yang saya lihat, teman – teman saya berubah jadi sosok yang berani membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Mengambil kekuatan untuk menentukan arah pasti dalam hidup mereka dan itu harus diacungi jempol. Tetap semangat teman…












Recent Comments