Pajak
Besok, 31 Maret 2008, adalah hari terakhir pengembalian Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (SPT). Di kantor, informasi ini tertempel hampir di setiap lantai, disertai ”himbauan”, yang terlambat akan dikenai denda 100ribu. Nyatanya, dari omong – omong yang beredar, banyak karyawan berniat mangkir dari proses ini. ”Lebih baik didenda aja deh.” Saya, yang berstatus pegawai kontrak, cukup ’beruntung’ karena ga ikutan ribet. Pikir saya pajak sudah langsung dipotong kantor, saya terima bersih, ga repot.
Pengetahuan saya tentang pajak sangat minim. Yang saya tahu pajak itu dibutuhkan untuk pembangunan jalan tol, pelayanan kesehatan gakin, subsidi bahan bakar, persediaan beras bulog dll.
Kata ’pajak’ juga saya kenal saat melihat demonstrasi kebijakan pemerintah. Masyarakat protes karena pemerintah menghambur – hamburkan uang rakyat. Ya, pemerintah ini dibiayai oleh masyarakat yang didapat dari pajak. Masyarakat bayar pajak, uangnya dikumpulkan untuk membiayai pemerintahan. Termasuk di dalamnya membayar gaji anggota DPR yang kurang lebih 90 juta perbulan, membayar ongkos perjalanan studi banding keliling dunia sampe membayar cucian baju pejabat.
Saya selama ini adem ayem karena tidak pernah merasa membayar pajak, wong yang selama ini saya terima bersih. Belum lagi saya sering dapat pekerjaan sampingan yang tidak terkena pajak. Jadi aman.
Sampai saya mendengar curhatan teman saya. Dia pusing tujuh keliling dengan pajak. Sebulan belakangan dia dibombardir pengetahuan sistim pajak yang membuat dia protes. Ia ’protes’ karena menjadi orang baik. Yang patuh membayar pajak, menyisihkan hampir 50% penghasilannya untuk sesuatu yang tidak ’jelas’. Hasil usaha keras dan kerja ’jual jantung’ harus dia bagi dengan orang lain.
Dia ’berontak’ karena memilih menjadi orang baik yang mengikuti sistim, ketimbang mengikuti jejak pelaku bisnis yang menggelapkan pajak miliaran rupiah. Dia sedih, karena memilih melawan arus.
”Jika ibu, bapak saya sakit, akankah pajak yang saya serahkan bergilir membantu saya?”
Dia ’kecewa’ karena mengambil resiko memberikan sesuatu yang besar, untuk sesuatu yang tidak pasti. Pemerintahan yang penuh korupsi, uang yang diberikan tak jelas jeruntungannya dan tak tahu untuk apa. Seperti membuang garam ke laut, namun yang dibuang bukanlah garam, tapi batu permata, sesuatu yang dihasilkan dengan cucuran keringat.
Jika begitu besar pelaku bisnis triliunan rupiah bisa lolos dari sistim pajak, mengapa ia yang penghasilan tidak seberapa harus terkena imbas pajak bertubi – tubi? Ia berduka karena memilih menjadi ’korban’ dari sistem yang tidak adil ini.
Saya tidak tahu harus berbuat apa. Ia satu – satunya orang yang bisa membuat saya diam membisu, tak tahu berkata apa. Setiap kata yang keluar sepertinya salah. Dia sedang berduka. Saya diam. Memang, bukan saya yang berada di posisinya, yang harus mengorbankan separuh penghasilannya.
Awalnya saya pikir ini tentang uang, makanya saya protes dan dia pun marah karena saya dianggap tidak mengerti. Namun ini bukan tentang uang, tapi penyerahan, menyerahkan sesuatu yang berharga darimu kepada sesuatu yang tidak pasti. Jika kamu memiliki emas permata, tentunya kamu tidak menyerahkannya pada anak kecil.
Tapi dia belajar, belajar untuk bersabar, belajar mengerti sesuatu yang tidak bisa diterima akal sehat. Belajar melangkah dengan iman. Ia belajar dan menanti saatnya emas permata itu akan ia serahkan.
Tidak mudah memang menjadi orang baik, yang patuh pada peraturan dan menentang arus. Saya hanya percaya apa yang dilakukannya tidak sia – sia. Manusia memang mengecewakan, namun Tuhan pasti peduli dan memperhatikan apa yang dia perbuat. Bahwa suatu saat nanti, emas permata yang ditabur akan membuahkan emas permata berharga lainnya.
Tidak adil memang memberikan Tuhan sebagai jawaban, karena Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa didebatkan lagi. Saya harap ini bukan sekedar basa – basi penutupan, namun sebuah doa agar dia kuat.
Semoga ia bisa tidur nyenyak malam ini....

Comments