Berkorban untuk sahabat?
Agama saya mengajarkan agar umatnya berkorban bahkan mati untuk sahabat. Dalam hati saya bertanya, kenapa sahabat? Akankah lebih masuk akal jika pengorbanan dilakukan atas nama orang tua, anak, pasangan atau setidaknya saudara sedarah?
Ditilik dari industri film, soal
pengorbanan memang sering dijadikan plot untuk jualan. Life is
beautiful misalnya, mengisahkan seorang ayah, Guido, yang berkorban
untuk Joshua, anaknya. Ketika Guido berjalan dengan wajah komikal,
memberikan senyum lebar untuk anaknya, sesaat menjelang ajal, saya
menangis. Bahkan rasa tak percaya berkecamuk begitu peluru menghujam
tubuh dan Guido tewas. Tidak rela, tapi begitulah pengorbanan ayah,
agar anaknya hidup. Pengorbanan tersebut terbayarkan waktu Joshua
berdiri tegap di atas tank, tersenyum bangga atas hadiah utama yang
dijanjikan ayahnya. Saya pun tersenyum dengan linangan air mata.
Pengorbanan dalam relasi orang tua – anak memang paling dramatis. Paling menguras air mata dan juga paling masuk akal. Pengorbanan pasangan juga jadi favorit. Motivasinya cinta dan tidak habis – habisnya kita mengagungkan pengorbanan cinta.
Film fenomenal Titanic mengisahkan Jack yang menolak berbagi beban, terapung di lautan es demi Rose. Moulin Rouge menjual kisah Satine yang 'terpaksa' bohong, mengusir kekasihnya, bahkan nyaris menyerahkan diri pada Duke agar Christian, sang pujangga hati selamat. Atau yang terbaru, bagaimana Rachel Dawes mengucapkan perpisahan untuk Harvey Dent, berharap agar tunangannya yang diselamatkan, bukan dirinya.
Tapi bagaimana dengan teman? Salah satu plot pengorbanan teman yang saya ingat yaitu sewaktu Spiderman, diselamatkan Harry Osborn, New Goblin, sahabatnya yang tiba – tiba bertobat. Kritikus film Indonesia, peraih piala citra mencatat film ketiga Spiderman itu sebagai flop, tak lain dari film kacangan kelas III. Yup, pengorbanan atas nama teman memang sulit dicerna, kurang masuk diakal. Siapakah teman itu hingga layak mendapat pengorbanan nyawa? Teman tidak punya ikatan darah, tidak ada komitmen, tidak ada relasi ketergantungan yang mengikat. Apa yang tersisa?
Kalau New Goblin rela mati demi Spiderman, saya tidak yakin Spiderman rela mati demi New Goblin. Buat apa? Toh sekedar teman. Begitulah dalam berteman, apapun yang kau lakukan, belum tentu perlakuan serupa yang kau terima.
Itulah mengapa saya bertanya – tanya
saat Tuhan saya bersabda dalam Yohanes 15: 13 “Tidak ada kasih
yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya.” Mengapa kasih yang terbesar justru
diberikan untuk teman? Referensi yang sering dipakai adalah
persahabatan Daud dan Yonatan. Ketika Saul, raja Israel, ayah Yonatan
ingin membunuh Daud, Yonatan berjuang menyelamatkan nyawa sahabatnya,
termasuk membelot, berbohong pada ayahnya. Ia lebih mendukung Daud
ketimbang ayahnya.
Kenapa sahabat? Saya tidak tahu. Mungkin justru dari sahabatlah kita bisa belajar cinta kasih sesungguhnya. Dan mungkin inilah yang ingin Tuhan sampaikan, bagaimana kau mempertaruhkan sesuatu yang berharga, untuk sahabatmu tanpa pamrih. Tak ada balasan, ikatan, komitmen ataupun paksaan. Kamu hanya memberi. Iklas. Bukan karena temanmu yang luar biasa, tapi hanya karena kau mengasihi dia. Tulus.
Saya masih belajar.











Recent Comments