« Virus Bahagia | Main | Berkorban untuk sahabat? »

Tak ada gading yang tak retak

Nikah2Harusnya pribahasa di atas ditegaskan kepada setiap sejoli yang memutuskan menikah. Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula pernikahan. Jika anda membayangkan mahligai pernikahan akan membuahkan kisah “happily ever after”, maaf saja, anda pasti kecewa.

Banyak perempuan mengaku sedari kecil dirinya bercita – cita ingin jadi pengantin. Berdandan manis, dengan gaun putih, didampingi pujaan hati dan mengucapkan janji setia sehidup semati. Ini juga dipertegas dalam bacaan cengeng negeri dongeng. Lima sekawan Cinderella, Putri Salju, Putri tidur, Little Mermaid, Beauty and the Beast, menawarkan akhir cerita yang serupa. Gadis cantik, sedikit terpuruk namun diselamatkan oleh pangeran menawan. Akhir cerita ditulis, mereka menikah dan bahagia untuk selama – lamanya.

Ok…saatnya melihat realita. “Happily ever after” hanya terjadi di cerita dongeng. Get real…..Saya beruntung tidak pernah ‘begitu amat sangat ingin menikah’ dari kecil, bahkan hingga sekarang. Bersyukur saya terbebas dari ‘kutukan’ impian kolot itu. Akhirnya saya bisa melihat pernikahan lebih nyata tanpa acuan buku dongeng.

Pernikahan itu kerja keras, tidak mudah dan sama seperti gading gajah, tak ada yang sempurna, semuanya penuh retak. Coba bayangkan, manusia diciptakan begitu berbeda. Jangankan, berbeda jenis kelamin, anak kembar identik pun sulit disatukan. Hingga menyatukan dua individu ke dalam satu biduk rumah tangga menjadi pekerjaan yang mustahil. 

Nikah_3Mustahil, tapi toh jutaan pasangan di dunia unjuk keberanian melangkah ke pelaminan setiap tahunnya. Nekat? Bisa jadi, namun gelar ‘nekat’ harusnya diberikan kepada mereka yang memutuskan bercerai dalam hitungan tahun dengan alasan ‘tidak ada kecocokan’. Hmm….seperti yang saya katakan tadi, ketidakcocokan merupakan sesuatu yang alami dan tidak bisa dihindari. Belum lagi, situasi berubah, politik, kesehatan, keberuntungan berubah dan jangan lupa, sifat orang pun bisa berubah. Jangan heran jika anda bangun dan menemukan orang yang berada di samping anda, bukan dia yang kau nikahi dulu. Perubahan itu sesuatu yang pasti akan terjadi. Tidak ada kecocokan? Yah memang akan tidak cocok.

Pendapat lain mengatakan, pernikahan bak penjara seumur hidup. Dan jika anda umat kristiani, anda layak mendapat ucapan selamat dua kali. Bahkan Tuhan dan gereja-mu melegalkan ‘penjara seumur hidup’ tadi. Perjuangan akan lebih dahsyat karena tidak bisa seenaknya kawin cerai. Mengurus perceraian lebih rumit daripada permasalahan yang membuat anda bercerai. Dan lengkaplah sudah.

Saat berita perceraian datang, saya berduka. Menanyakan alasan perceraian pun rasanya enggan, saya lebih ingin menanyakan alasan mereka menikah diawalnya. Dan sisanya menanyakan kabar mereka. Mereka pasti jauh lebih berduka daripada saya. Menyesal memang datang belakangan.

Teman saya bilang, kebahagiaan itu diciptakan. Saya setuju. Kebahagiaan tidak datang sendirinya. Butuh kerja keras untuk menciptakan itu. Untuk semua sahabat yang memutuskan menikah, saya selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Kalianlah pencipta kebahagiaan itu. Terus berjuang yah….

                            

Comments

"Saya beruntung tidak pernah ‘begitu amat sangat ingin menikah’ dari kecil, bahkan hingga sekarang."
-> Masa sih ven? That's not what you told me... kekekekekeke...

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .


My Photo

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31